Wednesday, March 16, 2011

Break Up ...

Putus merupakan hal yang sangat jamak terjadi di kalangan mereka yang sedang menjalin hubungan. Yang sudah dipersatukan dalam tali perkawinan saja bisa bercerai apalagi hanya mereka yang baru dalam taraf pacaran.  Pertanyaannya kemudian adalah: "sampai taraf manakah 'putus' ini direlakan saja untuk terjadi?"

Seberapa lama atau pendek waktu yang menunjukkan 'usia' hubungan bukanlah hal yang penting untuk dijadikan patokan. Misal, jika hubungan berlangsung baru beberapa minggu atau bulan maka biarkan sajalah untuk putus; sedangkan yang sudah tahunan sebaiknya jangan. Akan lebih 'wise' jika kita menganalisis penyebab hubungan tidak berjalan dengan baik.

Beberapa 'kasus' temanku yang terekam ingatanku.
  • Ada seorang mantan rekan kerja yang pacaran sampai sekitar sepuluh tahun -- dari waktu duduk di bangku SMA, sampai lulus kuliah dan bekerja -- akhirnya putus, karena si laki-laki ga juga 'berani' memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang berikutnya, sementara temanku sudah 'kebelet' untuk menikah, mungkin juga mengingat 'umur'. Kebetulan pada waktu itu ada laki-laki lain yang mendekati temanku itu dan berniat untuk segera menikahinya.
  • Seorang rekan lain pacaran selama kurang lebih sepuluh tahun pula. Namun berhubung pacarnya tinggal di kota lain dengan temanku ini mengaku tidak bisa hidup tanpa memiliki pacar, di kota tempat tinggalnya pun dia punya pacar lain, silih berganti, dengan catatan sepengetahuan dan seijin pacarnya. Mengaku sempat tergoda dengan 'pacar-pacar mainan' lain itu, toh akhirnya temanku ini menikahi pacar yang dengan sabar 'membolehkannya' main hati.
Beberapa saat lalu Angie sempat cerita tentang teman kuliahnya yang putus setelah pacaran dua tahun. Sebagai teman baik, Angie berusaha 'hanya' menjadi pendengar yang baik, dan tidak 'menghakimi' apakah keputusan untuk putus itu layak atau tidak dilakukan. Namun tatkala teman-teman lain berkomentar, ""Waddduuuuhhh sayang dong kok putus? Memang udah ga bisa diperbaiki lagi? Ibarat kalau kamu mau berangkat ke kampus, kamu tuh sudah sedikit lagi sampai, tapi kenapa harus patah hati hanya gara-gara terantuk batu kerikil kemudian pulang?" Angie sempat hampir saja komen sesuatu. Darimana tuh teman-teman yang 'sok' perhatian tahu bahwa si X ini telah akan sampai tujuan?

Angie hampir saja mengucapkan hal yang ternyata ada di benakku (like mother like daughter beneran ternyata kita berdua, hihihihi ...) ketika kemudian X berucap, "Terus terang dalam perjalanan aku telah jatuh berulang kali, teratnutk batu kerikil kecil, batu besar, terjerembab ke dalam selokan, berdarah-darah. Masak dalam keadaan seperti ini aku harus melanjutkan perjalanan? Bukankah lebih baik aku pulang saja?"

Angie juga bilang 'feeling' dia mengatakan bahwa X's ex boyfriend pasti telah cheated on her. Dan beberapa saat kemudian, memang terbukti laki-laki itu telah berkhianat.

"He deserves to get a second chance?"

Hmmm ... tergantung yang menjalanilah. Toh X telah memutuskan untuk mengusaikan hubungan itu. Dan sebagai teman yang baik, ya "just lend ears" tanpa "judging". 

Aduhhh keselnya aku waktu mendengar analogi "sudah mau nyampe kok bla bla bla ..." How pathetic that analogy is.  Sangat amat mendingan putus daripada berdarah-darah dilanjutin hubungan itu, apalagi berlanjut sampai pernikahan. Putus toh tidak berarti dunia berhenti berputar kan?
Anyway, I am proud of my Lovely Star lah ...

PT28 20.15 160311

Monday, March 14, 2011

Grouping in a classroom

"Grouping" alias membagi siswa dalam kelompok-kelompok tertentu merupakan sesuatu yang gampang-gampang mudah. Gampang jika kemampuan siswa dalam satu kelas rata-rata, guru bisa tinggal 'merem' aja waktu melakukannya; sulit jika kemampuan siswa sangat bervariasi, apalagi jika 'gapping'nya sangat terasa jauh.

Sebelum mulai masuk kelas 3 untuk mengajar mata pelajaran SPELLING, beberapa rekan kerja telah 'membekaliku' dua nama di kelas itu yang biasanya dianggap 'pupuk bawang' alias hanya penggembira saja di kelas, kemampuan mereka berada jauh di bawah rata-rata kelas. Sang wali kelas juga telah 'wanti-wanti' agar aku tidak memaksa keduanya untuk menyelesaikan tugas di kelas; biarkan saja mereka menganggapnya sebagai pe-er, dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.

Kebetulan minggu yang lalu, waktu pertama kali membahas "common roots" untuk membuat kosa kata baru, dua anak ini pas kujadikan satu kelompok. Bisa dibayangkan jika anak-anak dari kelompok lain berebutan untuk maju ke depan, dua anak itu duduk anteng di tempat duduk masing-masing; sama sekali tidak terprovokasi untuk ikut rebutan menulis jawaban di 'whiteboard'. Waktu ada beberapa anak yang bilang, "Miss Nana, when two of them have to work together, they will produce nothing Miss ..." aku diam saja, karena kupikir nanti mereka akan kuminta mengerjakan tugas di buku di rumah. (Dengan harapan di rumah mereka akan dibantu oleh orang tua atau mungkin guru privat mereka.)

Tadi siang, aku masuk kelas 3, dengan topik review "common roots". Sebelum memulai 'grouping' salah seorang siswa bilang, "Miss, if you ask those two students work together again, they will not do anything again!" Tapi tadi siang, aku membagi anak-anak menjadi empat kelompok, satu kelompok berisi 3 anak. Waktu sibuk motong-motong kertas kecil-kecil, untuk kemudian kubagi-bagi, apakah anak-anak akan bergabung di kelompok A, B, C, atau D (ada 12 siswa di kelas 3), anak yang sama bilang, "Oh Miss ... please don't make me work with two of them in one group! That means, I will work alone! I am dead!" Dan ada beberapa anak lain yang mengucapkan hal yang sama. Kedua anak itu sendiri bersikap cuek bebek. Aku sendiri waktu mendengarnya malah terbahak-bahak, sambil berkata, "Oh please class, everybody must be able to work with everybody else! You cannot choose with whom. It will depend this lucky draw."

But hal ini mengingatkanku pada satu peristiwa waktu Angie masih duduk di bangku TK. Satu kali waktu acara 'parent-teacher interview' guru wali kelas Angie 'melaporkan' padaku bahwa ada seorang anak perempuan yang sok menangis ketika diminta bekerja bersama Angie dengan alasan Angie bersikap tidak bersahabat dengannya. Tentu saja hal ini mengherankan bagiku karena ga biasanya Angie bersikap seperti itu. Sesampai rumah, aku konfirmasikan ke Angie; jawabannya, "Ah, Angie ga suka bekerja satu kelompok dengannya karena dia tuh lelet Ma. Disuruh ngapa-ngapain ga bisa!" GUBRAKKK!!! Darimana dia belajar seperti itu ya? hihihihi ...

Sewaktu lulus SD, dan ternyata Angie dan si teman itu sama-sama masuk SMP yang sama, dan aku ingatkan 'kejadian' waktu TK itu, Angie bilang, "Masak sih Angie kayak gitu Ma? pantas aja dia nampak takut-takut gitu waktu liat Angie di sekolah." wakakakakaka ...
Like mother like daughter? Kayaknya engga deh. Suwer!!! haghaghaghag ...

And trust me, Angie is a very sweet friend now. ^_^
PT28 18.38 140311