Monday, July 30, 2007

Angie dan Kebab

“Bu Nana tahu ‘kebab’? Sudah pernah makan ‘kebab’? Di jalan yang akan masuk ke Pusponjolo ada orang jualan ‘kebab’ yang lumayan enak loh.” Seorang rekan kerja bertanya padaku pada hari yang sama, Sabtu 28 Juli 07.
“Well tahu sih, tapi aku belum pernah mencobanya. How much is it?” tanyaku balik, ingat bahwa Angie menyukainya.
“Ada beberapa macam ukuran. Yang paling kecil harganya Rp. 6000,00. tapi makan satu ‘kebab’ saja sudah sangat mengenyangkan,” jawabnya.
“Well, yang pertama kali promosi ‘kebab’ kepada Angie adalah Nana, sobatnya. Satu hari Nana mampir ke toko roti ‘Duta Sari’ yang terletak dekat rumah, hanya satu gang, bersama nyokapnya. Di toko yang milik seseorang keturunan Arab itu, Nana dan nyokapnya, yang juga memiliki darah Arab dalam tubuhnya, membeli beberapa macam roti, yang salah satunya ‘kebab’. Sebagai teman yang baik, Nana pun membelikan satu buah (buah? Biji? Tangkup? What is the correct measurement for this kind of food? LOL) ‘kebab’ untuk Angie yang kemudian dia antarkan ke rumah. Itulah kali pertama Angie berkenalan dengan makanan seperti burger yang namanya a la Arab ini.” jawabku panjang lebar.
“Oh deket rumah bu Nana ada juga toh? Harganya berapa?” tanya teman kerjaku itu.
“Lima ribu rupiah, seingatku.”
“Wah, murah dong mbak,” komentar temanku yang memiliki anak dia beri nickname sama dengan anak semata wayangku, Angie.
“Satu sore Angie pernah memintaku untuk membelikan ‘kebab’ untuknya. Kebetulan tanggal tua saat itu, kalau tidak salah. Komentarku waktu itu kepada Angie, “Yah ... lima ribu untuk beli satu buah kebab, hanya membuat seorang Angie kenyang sementara Mama masih kelaparan. Sementara kalau uang lima ribu rupiah itu kita belikan satu porsi nasi goreng di warung Cak Kabul dekat pasar Krempyeng itu, bisa membuat kita berdua kenyang. Bagaimana?”
Mendengar ceritaku ini, temanku yang anaknya bernama Anggun namun dia panggil Angie (ben bosen sing moco, tak bolan baleni wakakakaka ...) ini langsung berteriak, “Ya ampun mbak, kamu pelit amat sih sama anak sendiri? Angie ga protes waktu itu?” LOL. LOL.
“Oh dear don’t forget that Angie is very understanding. Ya ga protes lah dia. dia malah bilang, “Iya ya? Yuk beli nasi goreng aja Ma.” LOL.
“Dasar nyokapnya kebangeten,” temanku masih bersungut-sungut. Hahahaha ...
Sementara temanku yang menyebabkan ‘kebab’ pertama kali muncul sebagai bahan diskusi terlihat manyun, sembari bilang, “Ya iya sih, tapi kan kepuasannya beda? Sekali-sekali ga papa kan nyicipin ‘kebab’?” LOL
FYI, percakapanku dengan Angie selanjutnya waktu itu adalah,
“Kapan-kapan nanti Mama beliin Angie ‘kebab’ ya?” rengek Angie.
“Iya Sayang. Nanti setelah Mama gajian ya?”
Dan wajah Angie pun tetap cerah ceria.
Aku yang berlidah Jawa, meskipun berdarah Gorontalo, tetap saja sulit untuk ikut menikmati makanan-makanan ‘impor’ sebangsa burger, pizza, spaghetti, kebab, sandwich, you name it. Aku lebih suka menikmati pecel, petis kangkung, gudangan (atau disebut ‘urap’ di beberapa tempat) rujak, gado-gado, nasi goreng, bakmi Jowo, and other Javanese cuisine. Selain Chinese cuisine yang tentu telah mendapatkan pengaruh Jawa (“Hasil penggunaan teori THE ACT OF READING” komentar Pak Bakdi satu kali waktu aku dan Julie konsultasi tesis), seperti kwetiau dan cap cay.
Weleh, setelah mengalami adaptasi menggunakan teori THE ACT OF READING pun aku tetap kurang menyukai rasa makanan-makanan impor itu, apalagi rasa aslinya ya?
PT56 11.37 290707

Seorang Teman ...

Aku punya seorang teman yang begitu ingin anaknya tumbuh seperti Angie, a very understanding child who is not demanding to the parents. Salah satu “upayanya” (or whatever you call it) adalah dengan memberi anak perempuannya nama yang mirip dengan Angie, yakni Anggun, dengan nickname yang sama, Angie. Selain itu tentu saja dengan rajin bertanya-tanya kepadaku caraku membesarkan Angie menjadi an understanding child who is not demanding. Sayangnya aku sudah lupa apakah aku memang memiliki kiat-kiat khusus to “create” such a child, kecuali satu hal: tentu saja membesarkannya dengan penuh kasih sayang yang terbuka dan juga pengertian terhadapnya.
Hari Sabtu kemarin, 28 Juli 07 dia bercerita kepadaku bahwa dia telah melihat tanda-tanda yang bagus di diri Anggun alias Angie. Saat Anggun sakit, temanku memilih menggendong dia dan bukan adiknya yang baru berusia dua setengah bulan. Ternyata, secara mengharukan, Anggun yang baru berusia kurang lebih dua tahun terbata-bata mengatakan, “Adik ... adik ...” sambil menunjuk ke adiknya. Temanku menerjemahkannya sebagai, “Ibu menggendong adik saja.”
Mendengar cerita itu aku jadi ingat Angie kecil yang sangat posesif kepadaku. Suatu hari Angie kecil kuajak menengok seorang tetangga—sebaya denganku—yang baru saja melahirkan seorang bayi. Sembari ngobrol, aku sempat menggendong si bayi. Dan sebelum pulang, aku mencium si bayi.
Tanpa kusadari ternyata hal ini membuat Angie cemburu. Dalam perjalanan pulang, jalan kaki (jarak rumah kita tidak lebih dari 5 menit jalan kaki), Angie menolak kugandeng tangannya. Raut wajahnya menunjukkan rasa gusar dan marah yang membuatku heran, what’s up? Waktu akan kugendong, dia menolak dengan keras. LOL. Benar-benar membuatku heran.
Sesampai rumah, Angie tetap saja ngambek tatkala aku bercerita kepada adikku tentang Angie yang tanpa ba bi bu ngambek ga karuan apa yang dia inginkan. Waktu bercerita aku berusaha mengingat-ingat kronologis kejadian sore itu, sampai akhirnya aku menemukan jawabannya: Angie cemburu! Hahaha ...
Setelah tahu alasan yang membuat Angie ngambek, aku pangku dia, kupeluk dan kucium (pakai acara kejar-kejaran dulu di rumah, karena Angie masih berusaha menolakku LOL), dan kuajak dia bicara dari hati ke hati, semampuku bagaimana memberi dia pengertian bahwa tatkala Mamanya menggendong dan mencium bayi lain, itu bukan berarti Mamanya telah pindah ke lain hati. LOL. Setelah melihat rona wajah Angie lega, tidak lagi ngambek, aku pun ikut lega. LOL.
Temanku yang mendengarkan ceritaku betapa posesifnya Angie kecil pun heran, “Kok Angie kecil begitu?” jauh dari bayangannya tentang seorang anak yang penuh pengertian dan bukan seorang penuntut? LOL.
PT56 10.35 290707

Mandi Pagi

Jam berapakah kamu beranjak mandi pada hari Minggu, atau hari-hari libur yang lain?
Hasil didikan strict kedua orang tuaku dalam menghargai waktu, pada hari Minggu maupun hari-hari libur lain, aku tetap saja mandi di pagi hari, paling lambat pukul 9. (During my younger years, paling lambat jam 8!) Namun, menilik diary yang kutulis di tahun 2005 saat aku berkutat dengan tesis (hasil dari mempersiapkan content blog di http://jogjaklangenanku.blogspot.com) kadang-kadang aku pun mandi di atas jam 10, karena keasikan menulis. Dan aku tahu, untuk itu aku cukup merasa tidak nyaman pada diri sendiri. I felt like I did a very big mistake, yang bakal akan mengguncangkan ketentraman dunia. LOL.
Harus kuakui hasil didikan ortuku “harus bangun pagi”, “harus mandi pagi di pagi hari”, “harus mandi dulu sebelum sarapan” cukup berhasil dalam diriku, karena aku selalu merasa uncomfortable when disobeying it. bahkan sampai usiaku saat ini.
But, aku tidaklah se-strict itu kepada Angie. Aku tahu bahwa tidak bangun pagi, tidak mandi pagi di pagi hari, tidak mandi dulu sebelum sarapan di hari libur tidak akan menyebabkan perang kurusetra terjadi lagi di jagad pewayangan. LOL. Masalahnya adalah, aku tidak menemukan alasan yang masuk akal untuk “memaksa” Angie melakukan ketiga hal tersebut. Dari pengalaman hidup ngekos waktu kuliah S2 dulu membuatku sadar bahwa tidak bakal terjadi apa-apa jika kita tidak melakukan ketiga hal tersebut. Teman-teman kosku semua nampak baik-baik saja meskipun mereka bisa dikategorikan melakukan pelanggaran berat. Well, menurut peraturan ortuku tentu saja. Bahkan aku ingat aku ditertawakan seorang teman tatkala aku bilang, “Eh, kata ortuku kita harus bangun pagi agar kita tidak kehilangan rejeki.” Dia bilang, “Bangun pagi-pagi di kos, siapa yang bakal kasih kita rejeki Na?” LOL.
Nah, berhubung aku tidak strict seperti itu, Angie pun seenak udelnya saat hari libur datang. Lagipula setiap hari dia sudah terbiasa mandi pagi untuk mempersiapkan diri berangkat sekolah. So, tatkala hari Minggu datang, ya gapapalah kalau dia agak nyante, mandi agak siangan, atau siang banget. LOL.
Hal yang nampaknya “sepele” ini ternyata bisa menyulutkan ketegangan between Angie and her strict granny. Semula my mom bilang ke aku, “Angie tuh disuruh mandi di pagi hari meskipun hari libur, toh ga rugi.” Aku hanya berkomentar, “Ok, I will tell her.”
Setelah dilihat it didn’t work, my mom langsung ngomel ke Angie, dan tidak lewat aku. LOL. Hal inilah yang sering membuat Angie sewot.
Beberapa hari yang lalu, my mom sempet bercerita tentang hal ini kepada seorang temannya, “Angie tuh kalau hari Minggu, dia baru beranjak mandi setelah pukul 11.”
Guess what my mom’s friend said? “Lah, malah Putty tidak mandi kalau hari Minggu.” LOL.
Tadi siang, sewaktu Angie pamitan ke her granny untuk berangkat nonton Harry Potter dengan Tantenya (sekitar pukul 12.10), her granny asked her, “Sudah mandi belum?” LOL. Angie pun dengan sewot mengadu kepadaku. LOL.
How about your experience?
PT56 21.35 290707

Tuesday, July 17, 2007

Hari pertama Angie ...

Hari pertama Angie di sekolah pada tahun ajaran 2007/2008
Angie bangun lebih pagi dari biasanya, pukul 05.20. Dia memang berpesan kepadaku untuk dibangunkan lebih pagi sehingga dia bisa mempersiapkan diri berangkat sekolah lebih awal. Satu hal penting yang ingin dia lakukan adalah agar dia lebih leluasa untuk memilih tempat duduk, yang menurutnya strategis.
Jam 06.15 aku mengantarkannya ke sekolah. Jalanan benar-benar jauh lebih padat dibanding selama tiga minggu sebelumnya waktu anak-anak sekolah menikmati libur kenaikan kelas.
Siang hari sekitar pukul 13.30 dia kirim sms, “Ma, Angie berangkat les Bahasa Inggris dari rumah mbak Nana. Ma, tolong bawain buku HI3 sama sepatu yang biasa tak pake kursus itu loh Ma. Pake sepatu ini kakinya Angie sakit.” (NOTE: tulisan sudah “kuterjemahkan” sehingga dapat dipahami orang awam, tak hanya para remaja. LOL.) FYI, “mbak Nana” yang disebut Angie adalah sobat kentalnya sejak kelas IV SD.
Kita bertemu sore hari di kantor, aku mengajar, Angie kursus.
Seusai jam pelajaran, kita pulang bersama. Dalam perjalanan pulang, Angie dengan heboh menceritakan pengalaman tidak enaknya di hari pertama tahun ajaran 2007/2008: dia dituduh mencuri hape. Nah lo. Menyebalkan toh?
Cerita singkatnya begini. Seperti sekolah-sekolah lain, SMA N 3 pun mengadakan masa orientasi perkenalan sekolah selama tiga hari. Yang berbeda adalah anak-anak SMA N 3 tidak perlu memakai ‘atribut’ yang aneh-aneh, misal, untuk anak perempuan rambut harus dikucir berapa biji, diberi pita berwarna-warni, atau memakai topi karton, dll. Masa perkenalan ini benar-benar ditujukan agar para siswa baru mengenal sekolah mereka yang baru. Salah satunya adalah, para senior masuk ke kelas-kelas X untuk memperkenalkan kegiatan ekstra kurikuler yang mereka ikuti.
Tatkala Angie mendapatkan tugas untuk memperkenalkan CEMETI, majalah sekolah, dia harus meninggalkan kelas dan masuk ke kelas-kelas X. Pada waktu itu ditengarai ada 26 hape milik anak kelas X yang hilang. Entah bagaimana ceritanya panitia masa orientasi sekolah masuk ke kelas-kelas dan menggeledah dengan paksa tas-tas yang ada. Kebetulan Angie meninggalkan satu hapenya di tas, hanya mengantongi satu hapenya yang lain dalam rangka touring promoting CEMETI.
Ketika salah satu panitia menggeledah tas Angie, dia menemukan hape yang Angie simpan di dalamnya. Dengan serta merta, anak itu menuduh Angie telah melakukan pencurian hape. “Kenapa anak ini ga bawa hapenya di kantong ya? Ini pasti hape curian.” Tuduhan yang sama sekali tidak berdasar. Bahkan guru yang berada di kelasnya pun mengiyakan tuduhan itu. Untungnya, ketika anak yang tak tahu diri itu melontarkan ide, “Hape ini kita sita saja ya?” beberapa teman-teman sekelas Angie (yang tentu belum mengenal Angie dengan baik) mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang bijaksana. Untungnya lagi, (dasar wong Jowo, sudah dapat tuduhan menyakitkan gini ya tetap saja bilang “untungnya ...” LOL), Mita teman kursus Bahasa Inggris Angie sejak tahun 2004 yang sekarang satu kelas dengan Angie di kelas XI IA 1 melihat kejadian ini, dan dia langsung mengatakan, “Saya kenal Angie sejak dia kelas III SMP. Dan memang dia punya dua buah hape kok. Ini memang hape dia.”
Ketika Angie kembali ke kelasnya, dia dipanggil oleh guru yang berada di dalam kelas dan ditanya, “Apa benar kamu punya hape dua? Apa benar hape yang di dalam tasmu ini milikmu?”
Waduh ... aku kesel banget waktu mendengar cerita ini. Sayangnya Angie yang tidak tahan ingin segera bercerita (misal menunggu setelah kita tiba di rumah sehingga dia bisa bercerita secara leluasa), dia bercerita di atas motor. Aku harus membagi konsentrasi antara mendengarkan ceritanya dengan mengendarai motor. Angie yang duduk di belakangku pun tentu tak bisa kupandang mimik wajahnya tatkala bercerita. Apakah dia pun sama kesalnya denganku?
Tak lama kemudian, sesampai di rumah, Angie pun bercerita hal lain lagi yang dia sukai. Ketika touring classes untuk promosi mengikuti ekstra kurikuler CEMETI, dia dapati wajah-wajah imut yang biasa dia lihat di kursus Bahasa Inggris. “Waduh Ma ... akhirnya mereka pun ngikutin jejak Angie, bersekolah di SMA N 3. Asik asik ... ada tontonan apik ...” hahahahaha ...
Dasar remaja. ... LOL.
PT56 11.20 170707

Monday, July 16, 2007

From Angie to Jogja


Angie masuk kelas XI IA (baca => Ilmu Alam) 1 mulai Senin 16 Juli 2007. Ini berarti libur kenaikan sekolah telah usai. Tiga minggu telah berlalu.
Hal ini mengingatkanku akan rencana-rencana yang kutulis beberapa minggu lalu, apa-apa yang kurencanakan akan kulakukan bersama Angie selama liburan.
1. Ngenet lebih dari biasa, for fun buat Angie, sedangkan untukku sendiri tentu saja blogging.
2. Sewa VCD untuk hiburan, well untuk pengisi waktu saja, lebih murah dibanding aku ajakin nonton di bioskop toh?
3. Membiarkan Angie menggunakan desktop seharian sedangkan aku mengalah menggunakan the cutie.
4. Wisata kuliner
5. Berbelanja di supermarket dekat rumah
6. Ke Toko Buku
7. (Bermimpi) mengunjungi Jogja, kota klangenanku di kala jauh begini.
Dari keenam rencana itu, yang manakah yang akhirnya benar-benar kita lakukan bersama?
1. Ngenet lebih dari biasa
Hal pertama ini benar-benar terjadi. Aku ingat hari Sabtu pertama Angie libur (aku juga pas libur), kita ngejogrok di depan komputer di warnet selama tujuh jam. Ck ck ck ... aku blogging, mulai dari posting, berkunjung ke blog teman-teman plus ninggalin komentar di beberapa posts, plus ngedit template blog (aku sedang hot-hotnya posting di http://jogjaklangenanku.blogspot.com tentu saja), sekaligus membaca messages dari milis. Angie? Downloading lagu-lagu, theme (buat hape SonEr K 510i), video clip, friendster, dll.
2. Sewa VCD
Tidak jadi kulakukan. Entah kenapa kok rasanya aku sibuk banget sampai ga sempet ke VCD rental (yo opo seh sibuknya? LOL). Tapi Angie cukup beruntung karena selama Tantenya libur kerja, dia sewa beberapa VCD dan Angie ikutan nonton. Dua film yang dia ‘bajak’ ke harddisk adalah SHE’S THE MAN dan JOHN TUCKER. Aku sudah sempat diprovokasinya untuk nonton SHE’S THE MAN. Karena kesibukan nyiapin posting buat http://jogjaklangenanku.blogspot.com lah yang membuatku sampai sekarang belum sempat menulis review buat film yang lumayan feministic ini menurutku.
3. Menggunakan desktop
Kenyataannya selama aku libur kerja (yang berbarengan dengan minggu pertama Angie libur kenaikan), aku tetaplah lebih sering menggunakan desktop dibandingkan Angie, karena aku sedang keranjingan nyiapin posting buat blog klangenanku itu. Untuk sementara ini, demi mengantisipasi kemungkinan terkena virus, the cutie aku “karantina”, flash disk tidak kucolokin ke situ. So, demi mudahnya aku ngetik menggunakan desktop, sehingga tatkala akan kupost di blog, tinggal kutransfer ke flash disk.
Setelah aku masuk kerja lagi, ya Angie pun menggunakan desktop sebosennya selama aku di kantor.
4. Wisata kuliner
Belum jadi kulakukan.  Namun, di akhir libur, hari Minggu 15 Juli 07 akhirnya aku sempat juga menraktir Angie di bakso PAK GEGER yang berlokasi di Jalan Mintojiwo (kalo ga salah ingat LOL), setelah berkunjung ke Gedung Batu Sam Po Kong.
Btw, semenjak posting artikel yang berjudul SEMARANG PESONA ASIA, dan ada sambutan hangat tentang LAWANGSEWU di milis RumahKitaBersama, aku sudah ngebet banget untuk berkunjung ke Lawangsewu plus Sam Po Kong. Angie males melulu kalo kuajak kesana. Untunglah akhirnya aku kesampaian juga “memaksa” Angie untuk menemaniku ke dua tempat tersebut. LOL.
Oh yah, beberapa hari yang lalu, aku sempat juga ngajakin Angie minum es teler dan makan tahu gimbal di Jalan Menteri Supeno, dekat SMA N 1 Semarang.
5. Berbelanja ke ADA Supermarket
Sebenarnya ini merupakan kegiatan bulanan. Namun selain belanja bulanan, seminggu yang lalu aku ajakin Angie ke ADA Supermarket lagi untuk membelikannya sepatu baru plus buku tulis untuk persiapan masuk sekolah lagi. “She is really in good hands,” aku ingat komentar Rick di tahun 2000 lalu tatkala aku membelikan kacamata berenang, buku bacaan, plus baju baru buat Angie. LOL.
6. Ke toko buku
Seperti di postingan yang kutulis tanggal 4 Juli, aku dan Angie ke toko buku TOGA MAS Semarang. Aku belikan Angie satu teenlit novel, dan untukku sendiri JURNAL PEREMPUAN no 50 dengan topik utama “Pengarusutamaan Gender”.
7. Mimpi ke Jogja
Hanya mimpi. :( Kenyataannya aku ga punya dana yang cukup untuk mengajak Angie berkunjung ke kota klangenanku.
(Kata Angie: “Angie ga pernah kangen Semarang tuh Ma? Rasanya juga Angie ga cinta kota kelahiran Angie ini. Biasa-biasa aja.”
Jawabku: “Honey, you will feel it when you are away from this city. Seperti sekarang, Mama kangen Jogja melulu karena Jogja jauh, dan Mama berada di Semarang. Waktu Mama di Jogja, ya kangen Semarang lah.”)
Waktu aku ke bengkel 10 hari yang lalu, dan harus mengeluarkan dana Rp. 350.000,00 rasanya aku ga rela. Dengan jumlah itu, aku bisa ngajakin Angie ke Jogja, nginep barang semalam di hotel yang murah, dan melakukan ‘napak tilas’, seperti jalan dari kos ke Hasilnet, makan di RM Pak To, trus jalan ke Fakultas Ilmu Budaya lewat Fakultas Kehutanan, belok kanan sedikit, aku akan sampai di balairung, jalan ke selatan, aku akan melewati FISIPOl, Gedung MM lama, Fakultas Ekonomi, dan ... sampailah aku di Fakultas Ilmu Budaya. Dengan hape Angie yang memiliki fasilitas digital camera, aku bisa jepret bangunan-bangunan tertentu sebagai kenang-kenangan (waktu aku masih kuliah S2 kemarin, aku belum mampu membelikannya hape berdigital camera), juga untuk mengisi blog klangenanku. Namun apa daya??? Semua itu hanya ada dalam anganku.
Jadi inget beberapa hari lalu aku mimpi tersesat di daerah UGM, tidak tahu arah. Aku melihat gedung MM yang baru nan megah itu (yang terletak di Jakal, seberang ARTHA Photo), namun lokasi MM ini ada di selatan Gedung Sabha Pramana. Nah lo. Bingung kan? Serasa aku terjebak di sebuah kota metropolis yang megah dengan gedung-gedung tinggi menjulang gagah, dan aku resah tak tahu kemana arah kakiku melangkah. Halah ... Hahahahaha ... Dasar mimpi. Kenyataannya tatkala menuliskan mimpi itu di sini, ah, tentu saja aku ga bakal tersesat kalau hanya belusukan di UGM sih. LOL.
Eh, jadi inget (lagi) waktu bulan Januari 2002 aku dan Julie berangkat ke Jogja untuk membeli formulir pendaftaran S2 (waktu itu aku belum tahu apakah bisa mendaftar lewat internet, so kita berdua melakukan “out of date activity” alias conventional ini. Meskipun telah bertahun-tahun meninggalkan kota Jogja, aku yakin aku masih bisa menemukan jalan menuju UGM, dibandingkan Julie yang sama sekali buta Jogja pada waktu itu.
But ternyata, kita berdua sempat tersesat sampai ke terminal Umbul Harjo. Nah lo. Masalahnya adalah, aku ga tahu kalau bus AKAP sesampai di Jombor belok kanan, trus langsung menuju terminal Umbul Harjo. Waktu aku S1 dulu bus AKAP masuk kota, dan aku turun di Borobudur Plaza, terus ganti bus yang langsung menuju UGM. Terminal Jombor tentu saja belum exist waktu itu. 
Tentu saja kita berdua sampai di UGM akhirnya, but it took longer time. LOL.
Kita berdua langsung jatuh cinta sewaktu melihat Gedung Lengkung, dan membayangkan kuliah di dalamnya. KEREN BO. Kenyataannya? Kita berdua kuliah di situ hanya satu mata kuliah, SEJARAH AMERIKA (AMERICAN HISTORY) yang disampaikan oleh Prof. Ibrahim Alfian, di semester 1. Selebihnya? Di ruang kelas Fakultas Ilmu Budaya atau gedung Pasca Sarjana lama yang terletak di belakang Fakultas Ekonomi, atau di seberang Fakultas Psikologi, ga jauh-jauh amat sih dari Fakultas Ilmu Budaya yang terletak di samping Fakultas Psikologi.
Nah lo. Semula aku menulis buat blog Angie yang di http://my-lovely-star.blogspot.com Lha kok berakhir di Jogja? Huehehehe ... Ini artinya, tulisan ini bisa kuposting di blog Angie itu, maupun di blog klangenanku, plus blog friendster, dan mungkin pula blog multiply. Dasar narcist. Wakakakaka ... suka pamer diri di beberapa blog sekaligus. LOL. LOL.
PT56 23.30 150707

Saturday, July 07, 2007

Selasa 4 Juli 2007

Hari Selasa 4 Juli 2007 adalah hari terakhir aku libur term break dari tempat kerjaku. Itu sebabnya aku gunakan untuk ngeluyur dengan Angie (yang lebih sering dituduh sebagai adikku daripada anakku LOL).
Kita keluar rumah sekitar pukul 12.45. Tujuan pertama jelas warnet langganan kita. Semenjak aku keranjingan blogging LOL dan penasaran bagaimana membuat tampilan blog ku menjadi lebih indah dengan berbagai aksesori, sedangkan Angie kesenangan download berbagai macam theme untuk aksesori hapenya plus lagu macam-macam, kita berdua semakin sering ngenet. Sayangnya siang itu akses lelet poll!!!
What does lelet mean?
It means aku tidak bisa dengan mudah ngecek template yang bisa kudownload dari www.finalsense.com (thanks to Pak Ridwan Sanjaya yang telah menulis artikel ini di SM hari Minggu lalu). Aku yang penasaran melihat tampilan profile friendster milik Angie dan ingin mencobanya (cuma penasaran mencoba aja, dan bukan kepengen bikin tampilan profile friendster ku segitu heboh, kayak ABG aja LOL) pun harus menelan ludah doang berhubung akses serasa mati mendadak. Ngecek milis jalannya kayak siput. Mau balesin satu message di milis jelas tidak bisa.
Angie juga langsung komplain berat karena dia gagal melulu tatkala akan download sesuatu.
Akhirnya kita pun off dengan sangat terpaksa.
Dari warnet kita berdua ke warung tenda tahu gimbal plus es teler yang terletak di Jl. Menteri Supeno dekat SMA N 1. Bagi kita berdua yang memiliki perut dengan kapasitas kecil LOL semangkok es teler dan sepiring tahu gimbal untuk kita berdua cukuplah mengenyangkan. 
Dari situ kita ke toko buku TOGA MAS. Terus terang aku tidak begitu suka browsing buku di TB TOGA MAS Semarang berhubung tempatnya yang kecil dan sumpek karena terlalu banyak buku ditumpuk-tumpuk. Plus tidak ada AC. You can imagine how hot it is at TB TOGA MAS. Semarang ini hawanya sudah cukup panas, Berada di satu bangunan kecil yang sumpek dengan buku yang bertumpuk-tumpuk, jelas membuat segalanya semakin gerah. Namun, toh aku tetap juga ke sana karena toko buku ini menawarkan diskon sepanjang masa. 
Aku ingat TB TOGA MAS Yogya jauh lebih luas (berkali-kali lipat luasnya dibanding yang di Semarang) dan di Yogya ada AC-nya lagi. Persediaan buku juga jauh lebih lengkap dibanding di Semarang. Plus, biasanya diskon yang diberikan lebih banyak. Contoh, jika membeli novel LELAKI TERINDAH di TB TOGA MAS Semarang, diskon yang ditawarkan hanyalah 15% (harga dari pabrik Rp. 49.000,00, coba aja hitung sendiri jatuhnya berapa waktu aku membelinya), di Yogya, diskon yang diberikan adalah 20%. Memang HANYA 5% untuk sebuah buku. Namun jika dalam satu tahun aku membeli sampai 10-20 buah buku? Jumlahnya cukup lumayan bukan?
Aku tidak bermaksud membeli buku tatkala ke sana. Aku hanya ingin membelikan Angie buku. (Buku-bukuku di rak masih banyak yang belum aku selesaikan membacanya LOL karena aku sudah diterjang rasa jenuh lebih dahulu LOL)
Ketika aku naik ke lantai 2, aku melihat sebuah majalah komputer yang aku lupa namanya sekarang tapi topik utamanya adalah BLOGGING. Kata BLOGGING dicetak dengan huruf besar-besar dengan sangat mencolok di halaman depan. Wah, langsung membuatku ngiler. LOL. Sayangnya aku tidak membawa cukup uang untuk membelinya.
Kemudian aku berjalan mengitari satu lorong ke lorong yang lain (yang tentu jumlahnya tidak lebih dari jumlah jari kita di satu tangan). And I saw a SURPRISE. Ada JURNAL PEREMPUAN DI SATU RAK BUKU!!! Sudah lama aku kehilangan jejak dimana aku bisa membeli JP semenjak JP menghilang dari TB Gramedia. Terakhir kali aku membeli JP bulan November lalu tatkala aku ke Yogya untuk mengambil honor dari UGM atas pemuatan artikel ilmiahku di Jurnal HUMANIKA. Dari UGM aku sempat mampir ke SA sejenak dan memborong membeli beberapa nomor JP. (Aku meninggalkan Yogya bulan Januari 2006, 10 bulan sebelumnya.)
Namun berhubung aku membawa uang dalam jumlah yang ala kadarnya LOL, aku hanya membeli satu edisi, yakni nomor 50 dengan topik utama PENGARUSUTAMAAN GENDER. Aku membelikan Angie sebuah teenlit novel. Namun aku cukup senang karena aku sudah tahu harus kemana tatkala aku ingin membeli JP.
Kenapa aku ga langganan aja langsung ke Yayasan Jurnal Perempuan? So ga repot? Sebabnya adalah jika aku membeli di TB TOGA MAS aku mendapatkan diskon 15%. Kalau langganan langsung ke Jakarta, aku harus membayar harga penuh yakni Rp. 19.000 per nomor plus biaya kirim. Lebih boros. Maklum, jiwa seorang mahasiswa yang keuangannya tergantung beasiswa BPPS masih sangat kuat di benakku. LOL. LOL.
Aku dan Angie pun pulang dengan hati riang. :)
PT56 23.40 060707

Thursday, July 05, 2007

Sport anyone?

Hari Selasa 2 Juli 2007 Angie harus mengembalikan raport ke sekolah. Namun, berhubung aku tidak mencatatnya di organizer hape, aku lupa deh. jam 06.45 aku sudah cabut ke PC, tanpa memberi Angie uang saku. Waktu itu aku ya sempet heran kok Angie sudah bangun sekitar jam itu. Padahal biasanya kalau libur, Angie super molor. Apalagi saat aku masih di Yogya, dan dia main ke kos, wah, bakal bisa seharian dia molor. 
Sesampai aku di PC, aku baru sadar kalau Angie harus ke sekolah. Biasanya kan aku yang mengantarnya ke sekolah? Lah, aku sendiri sudah cabut? Gimana Angie mau berangkat? Tapi aku males banget kalau harus balik. Harapanku cuma satu: Angie tidak merasa terpatok harus ke sekolah jam berapa, so dia akan sabar menungguku balik dari PC untuk mengantarnya ke sekolah.
Tatkala aku sedang ngobrol dengan seseorang (nah lo, heran kan? Tumben si Nana ngobrol dengan seseorang di PC? Bukannya dia hobbynya nongkrong seorang diri, di sebuah bangku, memanjakan matanya untuk membaca atau ngetik di the cutie? LOL), tiba-tiba sms datang: dari Angie.
“Lho Ma, Angie td blm dikasi sangu ”
Nana: “Aduh Sayang Mama lupa  mau brangkat jam berapa? Buru2 kah?
berikut adalah ‘chat’ sejenak antara aku dan Angie lewat sms.
Nana: “Di tas Mama ada buku agenda kecil, di bagian sampul plastik ada uang 15000, tadi barusan Mama masukkan. Angie ambil aja, Mama males pulang awal. Ama sedang marah2 ”
Angie: ”J 8 krg sprmpt,,”
Nana: “Eh Sayang, lagipula Mama blm tandatangan di raport kan?
Angie: “Iya,, blm.”
Angie: “Ma,, tmn Angie da dtg jmp..Ama d g mrh kok.”
Nana: “Kalo butuh ttd Mama, ntar Mama mampir ke sklh aja, stlh fitness, ntar jam 8.30 kali, mau ketemu dimana?”
Angie: “Ck .. Ah Mama.. Yawda Angie takesana aj m tmnv Angie..”
Angie: “Ma, Angie d mw mpe ni. Kluar mbokan. Tp Ma2 bw bolpen y. Angie g bw bolpen soalv..”
(Note: Perhatikan cara-cara Angie menulis sms. Did you understand that? Itu masih mending, teman-teman Angie suka pakai huruf besar kecil digabung-gabung, plus bahasa yang aneh, jauh lebih aneh dibanding Angie, dan aku sering ga ngarti. LOL.)
Waktu Angie mengirim dua sms terakhir, aku sedang cycling, dan hape kutaruh di tas, so aku ga ngerti kalau dia bakal ke PC. Untungnya, pas selesai cycling, iseng nengok hape, aku membaca sms Angie, sadar bahwa Angie bakal ke PC, pas Angie miscall memberitahuku kalau dia sudah sampai di depan PC. Aku langsung keluar. Aku masih berkeringat, nafas masih agak ngos-ngosan (satu hal yang ga pernah kualami kalau sedang berenang. Satu bukti bahwa aku lebih kuat berenang dibanding naik sepeda. )
Di luar, aku melihat Angie turun dari boncengan temannya yang kemudian kuketahui bernama Melati, tinggal tak jauh dari tempat tinggal kita juga.
Bapak parkir sempat terheran-heran melihat Angie yang telah tumbuh remaja. Semenjak aku meninggalkan PC di tahun 2002 untuk kuliah di Yogya, aku memang belum pernah mengajak Angie (atau memaksa Angie LOL) untuk ikut berenang di PC. Yah, sudah lima tahun Pak, ya jelas Angie telah tumbuh menjadi gadis remaja dong, masak disuruh kecil terus? LOL.
Setelah memperkenalkan Angie dengan mbak si penjaga pintu kolam renang (karena dia sering banget nanyain kok tiap kali berenang aku ga pernah ngajakin anak ato siapa gitu LOL), I let Angie go.
****
Siang, Angie pulang dari sekolah sekitar pukul 10.30. Konsentrasi menulisku langsung buyar, karena Angie langsung nerocos ini itu tentang kejadian di sekolah. Angie juga menyampaikan kepadaku tentang keheranan Melati. “Ibumu senam emangnya buat apa Ngie?” waktu Angie merayunya untuk mengantarnya ke PC. Dan Melati menanyakan hal yang sama waktu dia melihatku keluar PC berkeringat, dan berkalung handuk kecil. (Kayak tukang becak? Huehehehehe ...)
“Ga tahu tuh,” jawab Angie.
Sampai di situ, tawaku langsung meledak.
“Yah emang orang olah raga buat apa Sayang? Ya biar sehat dong. Biar awet muda. Biar langsing juga kali.”
“Ya Angie tahu sih kenapa Mama senam.”
“Lah kok Angie bilang ke Melati ‘ga tahu tuh’?”
“Soalnya Angie justru bingung kok Melati nanya gitu? Emangnya dia ga tahu orang olah raga agar sehat? Kirain ada alasan lain deh. Nah, untuk alasan lain itu Angie ga tahu.”
LOL. LOL. LOL.
Jawaban yang cukup diplomatis bukan? LOL.
Aku jadi ingat obrolanku dengan seorang teman yang pernah komplain padaku karena tubuh istrinya menjadi melar setelah melahirkan ketika aku bilang ke dia kalau salah satu hobbyku adalah berenang.
(Read between the lines  di matanya tubuhku tidak melar karena aku berenang. LOL.)
“Mengapa perempuan menjaga diri hanya waktu belum married? Setelah married mereka merasa nyaman, sudah punya suami, sehingga tidak perlu menjaga kelangsingan tubuhnya lagi? Aku mau bilang ke istri supaya dia rajin olah raga agar tubuhnya langsing lagi, tapi aku takut dia tersinggung. Tak diemin, kok semakin ke sini tubuhnya semakin melar?”
Jikalau pertanyaan ini kuhubungkan dengan pertanyaan Melati, teman Angie, bisa jadi di benak Melati pun dia mempertanyakan hal yang sama, “Kenapa nyokapnya Angie berolah raga? Toh dia udah ‘laku’?” wakakakaka ...
Hal ini berarti Indonesia masih gagal dengan programnya, “mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olah raga”.
PT56 22.15 040707