Tuesday, June 26, 2007

ANGIE LIBUR

Angie libur sekolah. Kali ini berbeda dengan libur yang dia dapatkan bulan Mei kemarin lantaran kakak kelasnya ujian. Dia libur setelah menerima raport kenaikan kelas. Apa yang membuatnya berbeda?
Pertama, kali ini tentu saja liburnya lebih panjang ketimbang bulan Mei kemarin.
Kedua, mengingat Angie baru saja naik kelas dan masuk jurusan yang dia harapkan, entah mengapa aku menjadi merasa ingin melakukan sesuatu untuk membuatnya senang. Yah, misalnya berlibur kemana kek. Atau kalau tidak mengajaknya berlibur, mengajaknya melakukan sesuatu yang akan membuatnya senang. Well, seperti kebanyakan orang tua lain, aku pun selalu ingin membuat anak semata wayangku itu senang. Apalagi aku pun minggu ini libur dari tempat kerjaku.
So, tunggu apa lagi? Pergi aja berlibur toh? Misal, ke Yogya, kota kedua yang kucintai di Indonesia ini. Apalagi menurut kabar yang kubaca di koran, Yogya telah memiliki tempat wisata baru, entah apa namanya aku lupa. Pengunjung bisa merasakan bagaimana rasanya berada di suatu tempat yang bersalju. Nah, salju di Yogya? Jelas tidak mungkin bukan?
Bagi orang yang punya duit berlebih masalah berlibur ke luar kota tentulah tidak akan membuat orang itu repot mikir, sampai perlu pusing tujuh keliling. Lah aku???
Aku harus menelan ludahku sendiri. LOL.
Dan memang rencana ini hanya berhenti di pikiranku. Belum pernah aku lontarkan ke Angie. Yah, karena aku ga yakin apakah aku bisa mengajaknya berlibur ke Yogya di musim liburan kali ini. Padahal timingnya tepat banget. Dibandingin tahun lalu, misalnya. Setelah bersenang-senang Angie lulus SMP dengan nilai yang tidak mengecewakan, aku dan Angie harus berburu SMA. Kita berdua bersibuk ria melihat pengumuman di beberapa sekolah, kapan membeli formulir, syarat apa saja yang harus disertakan, mengembalikan formulir, mengecek jurnal tiap hari, etc. Sebelum yakin diterima di satu sekolah, tentu aku dan Angie belum bisa berlega hati.
Selain itu aku juga harus memikirkan jumlah uang sumbangan pembangunan yang harus dibayar. Seragam sekolah yang harus dijahitkan. Membeli buku. Dll.
Timing tepat tinggal timing tepat. Aku tetap harus menelan ludah. LOL.
So, kira-kira apa yang akan kulakukan selama musim liburan ini untuk menyenangkan hati my Lovely Star?
Aku sebaiknya merelakannya menggunakan desktop seharian dan aku menggunakan notebook tatkala ingin mengetik sesuatu. Satu sisi positif jika aku menggunakan the cutie. Berhubung tidak ada game di situ, aku tidak akan tergoda untuk main game. Aku terpaksa harus langsung fokus akan mengetik apa. Sifat procrastinatorku yang buruk (yang konon merupakan salah satu negative point atau mungkin justru menjadi excuse yang paling tepat bagi seorang perfeksionis sepertiku) selalu mendapatkan bala bantuan dari beberapa game yang ada di desktop. LOL.
Sewa VCD film yang ingin Angie tonton. Untuk sementara ini aku belum tahu film apa aja yang ingin dia tonton.
Mengajaknya ngenet. Well, just like her mom, Angie suka ngenet juga, terutama ber-friendster ria, browsing lirik lagu atau lagu, membuka www.youtobe.com entah apa yang dia cari, dll.
Aku berencana untuk mengajaknya berwisata kuliner di Semarang saja. Well, beberapa rumah makan yang dulu sering kukunjungi dengan ex siswa privatku mungkin akan kukunjungi lagi, kali ini bersama Angie. Kalau dulu aku ditraktir, kali ini aku yang nraktir Angie. LOL.
Berbelanja ke supermarket yang terletak paling dekat dari rumah. Ah, ini sih tiap bulan juga kita lakukan berdua. LOL.
Ke toko buku. Aku merasa harus membelikan Angie barang satu dua buku yang dia inginkan sebagai hadiah dia naik kelas. (CATAT: aku tidak menjanjikan dia apa-apa sebelum ini. Misal, “Kalau Angie naik kelas trus masuk IPA, akan Mama belikan sesuatu.” Itu dulu, waktu Angie duduk di bangku SD, kadang-kadang aku melakukannya, untuk mendorongnya melakukan sesuatu. Sekarang, aku tidak lagi melakukannya. Angie sudah cukup besar. Aku ingin dia melakukan sesuatu karena dia tahu bahwa dia harus melakukannya demi kebaikannya sendiri, dan bukan karena iming-iming hadiah yang kuberikan.)
Look??? Semua butuh duit untuk melakukannya. Jadi ingat pepatah yang kutemui di game ‘tumblebugs’. “Money cannot buy you happiness. But money can make you unhappy in some fine places.” NAH LO!!!
PT56 19.10 260607

Sunday, June 24, 2007

Angie and Popcorn

Beberapa hari yang lalu Angie komplain padaku, “Gara-gara Mama nih! Angie jadi suka ngecengin brondong kan?”

“Loh, apa-apaan nih?” tanyaku, ga ngerti.

“Tuh, mas Imoet yang kakak kelas pun ternyata hari ini baru berulang tahun yang ke 16. Berarti dia lebih muda dua bulan dibanding Angie!”

“Oh well, so what gitu loh Sayang kalo naksir cowo yang ternyata lebih muda?” komentarku.

“Malu lah Ma. Masak setiap kali Angie naksir cowo, selalu cowonya lebih muda dibanding Angie?” komplainnya lagi.

“Weleh, kan ga yang ada ngelarang lagi? Emang ada peraturan cewe harus naksir cowo yang lebih tuaan?” protesku.

“Emang ga ada sih. Tapi, Angie kan pengennya naksir cowo yang lebih tuaan?” jawabnya manja.

“Lah, salah sendiri napa pakai peraturan seperti itu pada diri sendiri?”

“Ini pasti gara-gara Mama dulu waktu SMP naksir adik kelas. Sekarang menurun ke Angie kan? Naksir cowo yang lebih muda? Padahal mas Imoet itu kan kakak kelas? Kok ya tetep aja Angie terperangkap dalam masalah naksir cowo yang lebih muda. Ga jadi pantes kuberi nick MAS IMOET dong orang dia lebih muda dua bulan?”

“Lho kok Mama jadi scapegoat sih? Itu kan bukan penyakit keturunan? And about his nick, oh well honey, you can change it now. Not MAS IMOET anymore, but DIK IMOET.” Godaku. Hahahaha ...

“Enak aja, emangnya Angie udah tua banget apa, manggil dia DIK?” komplain Angie.

“Loh kata Angie dia ga pantes dipanggil MAS karena ternyata dia lebih muda, gimana sih?” tanyaku, tetap dengan nada menggodanya.

Dan Angie cuma bisa merengut. Hahahaha ...

####

Entah berasal dari mana, tapi akhir-akhir ini ada satu kata gaul yang sering dipakai orang-orang untuk menyebut laki-laki yang berhubungan dengan perempuan yang lebih tua: BRONDONG. Apa hubungan laki-laki yang lebih muda ini dengan brondong alias pop corn? Karena sama-sama renyah? Wakakakaka ...

Dan Angie pun ikut-ikutan menggunakan istilah tersebut. Entah kecewa atau entah kenapa tatkala mengetahui bahwa cowo kakak kelas gebetannya ternyata lebih muda, Angie sempat woro-woro ke beberapa teman dekatnya. Dan komentar mereka nyaris sama, “Kamu tuh Nggie, seleramu memang brondong-brondong gitu deh.”

Wakakakakaka ...

“Padahal Angie tuh ya udah bela-belain naksir kakak kelas. Eh, tetap aja dia lebih muda dibanding Angie,” komplain Angie kepadaku.

Huehehehehe ...

####

Dalam mendidik Angie, aku selalu berusaha untuk melepaskan dirinya dari kotak-kotak bahwa dalam suatu hubungan sang laki-laki harus LEBIH dibanding si perempuan, misal: lebih tua, lebih tinggi baik fisik maupun pendidikannya, lebih kaya, dll. Aku berharap agar Angie tumbuh bebas lepas, tanpa terbelenggu nilai-nilai yang sering tidak masuk akal dan tidak memiliki esensi. Aku juga berharap dengan cara berpikir yang demikian akan membuat Angie tidak ikut terlibat gosip menggosip yang tidak sehat. (Aku ingat tatkala seorang rekan kerja, perempuan, menikah dengan laki-laki yang secara fisik lebih pendek dari dia, maupun rekan kerja, juga perempuan, menikah dengan laki-laki yang jauh lebih muda, banyak orang-orang yang berbisik-bisik di belakangku di pesta pernikahan mereka, mengatai tidak pantas, dll. Sucking people!!!)

Namun toh Angie tetap saja gusar tatkala dia merasa ‘berbeda’ dengan teman-temannya yang lain.

Aku sempat pernah me’ngompori’nya untuk ‘menembak’ cowo terlebih dahulu. LOL. Sebelum melakukannya, dia bertanya dulu kepadaku, “Mama, is it okay for a girl to express her feeling to a boy first? And not on the way around?”

“Why not, honey? Girls have right to do it too of course. Just express yourself openly. I encouraged her.

“But kalo ternyata dia menolak, tengsin berat dong Ma?”

“Yah, itu resiko dong Sayang. Apa dikira Angie tuh cowo-cowo ga tengsin kalo ‘tembakan’nya ditolak cewe yang dia taksir?”

“Tapi kan kalo cowo ditolak cewe itu udah lazim Ma? Masak mereka tengsin juga?” tanya Angie ga percaya.

“Semua orang merasakan hal yang sama dong menurut Mama,” jawabku.

“Tapi cowo kan bermuka lebih tebal dibanding cewe Ma,” protes Angie.

“Ah ya belum tentu dong Sayang!” jawabku lagi.

And in fact, Angie really did that. LOL. Aku sendiri ga yakin apakah akan mampu melakukannya. Hahahahaha ... Rasanya ga bakal mampu menahan malu berat seandainya ditolak. Wakakakakaka ... Good for Angie because it worked well on her. LOL.

Aku yang selalu merasa menjadi salah satu korban kultur patriarki ini menginginkan kultur yang jauh lebih ramah terhadap perempuan untuk Angie. Namun toh Angie tetap saja terkungkung dengan konsensus-konsensus yang entah kapan mulai diberlakukan. As her beloved Mom, tentu saja aku tidak akan berhenti untuk berusaha menghadirkan dunia yang lebih nyaman buatnya, untuk menerima keperempuanannya dengan terbuka, dan tetap merasa equal dengan laki-laki, tanpa perlu merasa terbatasi hal-hal yang tidak masuk akal. Well, at least tidak masuk akal buatku, sang Feminis.

PC 07.35 050607

Saturday, June 23, 2007

Angie and Her Ex

Beberapa minggu lalu Angie pulang sekolah dengan wajah agak murung. Aku tidak bertanya mengapa karena seperti nyokapnya, Angie bukan tipe anak yang mau bercerita kalau dia tidak sedang mood bercerita. Namun kalau sedang mood, dia akan bercerita banyak, tanpa perlu ditanya. Dan biasanya dia memang bercerita banyak hal kepadaku.
Malam itu, ketika pulang dari mengajar, aku bercerita-cerita tentang suasana kelasku kepada Angie. Di dalam kelas, ada seorang sekolah Angie sejak SMP, inisialnya R, perempuan. R sangat talkative dan kupikir dia memanfaatkan keberadaanku sebagai nyokapnya Angie sehingga dia merasa nyaman-nyamansaja talkative di kelas, meskipun waktu itu siswa-siswa yang lain sedang berdiskusi sesuatu atau mempersiapkan debat antar kelompok, dll.
Ketika menyebut R inilah, tiba-tiba Angie bercerita tentang sesuatu hal yang telah membuat hatinya agak kesal. Pagi itu R bererita kepada Angie tentang apa yang dikatakan oleh seorang anak laki-laki, inisialnya RZ, yang pernah “menembak” Angie, untuk menjadi pacarnya. Sebelum “menembak” Angie, Angie tahu bahwa RZ berpacaran dengan R, namun dia mengaku telah putus dengan R ketika “menembak” Angie.
R bercerita, “Kamu tahu Ngie, waktu RZ kutanya mengapa dia menembakmu waktu kelas 3 SMP itu, meskipun aku dan dia belum resmi putus. Dia bilang, ‘Aku cuma pengen ngerasain gimana sih rasanya pacaran tapi tidak sayang.’ Coba bayangkan, ngeselin ga tuh orang?”
Wajah Angie terlihat sedikit terluka tatkala becerita hal itu kepadaku. Dia bilang, “Enak aja RZ bilang begit ke R. Emangnya dikira Angie sayang sama dia???”
Aku mencoba menetralisir perasaan marah Angie dengan mengingatkannya atas apa yang dia katakan dulu padaku.
“Angie coba ingat-ingat lagi peristiwa sekitar satu setengah tahun yang lalu itu. Mama sendiri kaget waktu Angie bercerita bahwa Angie menerima ‘tembakan’ RZ, kirain Angie masih suka pada RM. Tapi lantas Angie bilang Angie menerima RZ karena kesel sama RM. Angie seperti ingin berkata kepada RM, ‘Nih, aku laku kan? Putus sama kamu, aku juga dapet yang lain, yang ga kalah cakep, pintar, dan tajir dari kamu!’
Namun entah mengapa atkala gosip beredar di sekolah bahwa Angie pacaran dengan RZ, Angie tiba-tiba merasa tidak nyaman kepada RM, dan Angie ngomong ke geng-nya Angie, ‘Well, aku menerima RZ hanya untuk pelarian aja kok.’ Menurut pendapat Mama waktu itu, di satu sisi, Angie ingin pamer pada RM punya cowo baru. Tapi di sisi lain, Angie juga ingin nunjukin ke dia kalau Angie ga bener-bener suka ke RZ karena Angie masih suka pada RM.”
Sampai di situ kata-kataku, Angie tersenyum-senyum geli. Kemudian aku melanjutkan, “Jangan dikira geng Angie tidak akan menyebarkan omongan Angie itu ke teman-teman lain. Angie tahu sendiri betapa gampang gosip menyebar di sekolah Angie saat itu. Nah, apa dikira kalau RZ dengar pernyataan itu, dia ga bakal sakit hati pada Angie?”
Senyum Angie tambah melebar, dan dia mulai merajuk, “Masak sih Ma dia denger? Kalaupun denger, masak sih Ma dia sakit hati?”
“Try putting yourself in his shoes honey. What do you think? Would you get hurt or not?”
Angie tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum-senyum geli. Ekspresi wajahnya yang semula masam dan agak terluka hilang. Dia menatapku dengan sorot mata yang kuterjemahkan, “Kok Mama inget sih Angie ngomong gitu?” LOL.
“Kalau menurut Mama kira-kira RZ masih sayang R ga sih waktu dia nembak Angie dan pacaran dengan Angie?” tanyanya merajuk.
“Well, I cannot figure it out.”
“Menurut Mama, RZ tuh pernah sayang Angie atau engga? Atau memang cuma main-main doang?”
“Well, kalau inget sms-sms manis yang dia kirim ke Angie sebelum ‘menembak’ Angie, kayaknya sih dia memang sayang sama Angie. Well, at least pernah. Itu sebab setelah dia tahu Angie putus dengan RM, dia langsung mengambil kesempatan itu untuk ‘menembak’ Angie meskipun dia belum putus dengan R. Harusnya Angie sadar kayaknya Angie duluan deh yang nyakitin dia dengan ngomong ke geng-nya Angie tentang masalah pelarian itu. Tapi kalau bandingin keberanian dia mengirim sms-sms manis dan mesra seperti itu ke Angie dengan RM yang pemalu, well, kata Mama dia punya bakat untuk menjadi buaya juga. LOL. ” kataku mencoba menganalisa.
“Anyway honey, that is not important anymore now. Yang ingin Mama tekankan di sini adalah Angie tidak perlu terluka dengan apa yang dikatakan oleh R yang katanya didengarnya dari RZ. Sekarang skor Angie dengan RZ satu sama. Dulu Angie melukai RZ dengan mengatakan dia hanyalah pelarian Angie saja. Dan mungkin seantero kelas 3 SMP N 1 angkatan 2005/2006 mendengarnya. Sekarang RZ membalasnya dengan mengatakan hal tersebut kepada R, dan belum tentu seantero kelas X SMA N3 mendengarnya. Ok? Keep your chin up. And let bygone be bygone.”
Wajah Angie terlihat ceria kembali. Dan aku senang melihatnya. This is one role of a mother and a best friend that I always enjoy from my relationship with Angie, my Lovely Star.
LL 16.18 190607

IPA - IPS - BAHASA

Aku tidak tahu apa yang menggayuti pikiran Guru Wali Kelas Angie tatkala dia berbicara basa basi sejenak kepada orang tua murid yang akan mengambil raport, hasil belajar anak-anaknya selama satu semester. Kalimat pertama yang dia ucapkan adalah, “Maafkan saya Bapak-Bapak...” (mana dia ga nyebut Ibu-Ibu lagi. Grogi kali dia ya? LOL.)
Ada apakah gerangan sehingga belum apa-apa Guru Wali Kelas itu harus meminta maaf kepada orang tua murid?
Ternyata dia memberi alasan karena tidak semua siswa kelas X-9 itu naik kelas dan masuk jurusan IPA. Seperti pertemuan pihak sekolah dan orang tua siswa tanggal 21 Februari 2007 lalu, Guru Wali Kelas mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Kepala Sekolah bahwasanya karena input yang kurang bagus tahun ini, dengan jumlah NEM yang sangat bervariasi, SMAN 3 Semarang terpaksa membuka jurusan BAHASA yang telah sekian lama tidak dibuka. Hal ini secara tidak langsung memberitahu kita bahwa jurusan BAHASA dianggap jurusan sampah.
Sebagai seorang alumni jurusan BAHASA SMA N 3 Semarang aku merasa tersinggung. Well, tidak melulu kepada cara berbicara Guru Wali Kelas itu, maupun apa yang dikemukakan oleh Kepala Sekolah bulan Februari lalu. Namun terutama kepada masyarakat kita yang tetap saja mengkotak-kotakkan pendidikan.
IPA è pintar
IPS è kurang pintar
BAHASA è bodoh
Padahal semua itu berhubungan dengan sistem motorik otak kanan dan otak kiri. Otak sebelah manakah yang bekerja dengan lebih giat yang akan menentukan apakah seseorang lebih berbakat untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan IPA, IPS, maupun BAHASA.
Aku datang untuk mengambil raport Angie dan merasa siap dengan segala hasil yang akan aku terima. Aku memang termasuk orang tua yang sangat demokratis, menyerahkan segala pilihan kepada anak. Angie sendiri yang ingin masuk ke IPA dengan alasan yang dia sendiri yang tahu pasti. Jikalau hasil test Angie (yang kebanyakan hafalan doang, maklum sistem pendidikan di Indonesia kan memang begitu?) dianggap tidak memadai masuk IPA, karena mungkin sistem motorik otak kanannya lebih aktif, aku yang akan menghiburnya untuk menerimanya dengan lapang dada. So, tidak perlu seorang Guru Wali Kelas meminta maaf kepada orang tua murid.
Tapi aku paham bahwa tidak semua orang tua murid memiliki jalan berpikir sehat sepertiku. LOL. So, aku anggap saja permintaan maaf Guru Wali Kelas itu ditujukan kepada orang tua murid yang belum sadar bahwa anaknya bukan miliknya seutuhnya, sehingga dia tidak terlalu berhak untuk mencampuri segala macam urusan sang anak. LOL. LOL.
Dan, memang, selama menunggu giliranku menghadap Guru Wali Kelas, aku mendapati (overheard, maklum tempat dudukku cukup dekat dari meja guru) beberapa orang tua murid yang masih saja ingin mencoba merayu agar anaknya bisa pindah ke jurusan IPA.
Menyedihkan.
PT56 11.30 220607

HARI TERIMA RAPORT

Aku tak menyangka bahwa Angie begitu nervous-nya menunggu hari ini, 22 Jun. 07. Pertama: dia begitu khawatir bahwa dia tidak akan naik kelas karena standard nilai yang cukup tinggi untuk masing-masing bidang studi di sekolahnya, SMA N 3 Semarang, yakni 75. Waktu penerimaan raport semester ganjil kemarin, guru wali kelasnya telah mengumumkan bahwa untuk naik kelas, nilai yang masih bisa ditolerir yaitu jika ada maksimal 3 mata pelajaran yang nilainya masih di bawah 75. Lebih dari itu, seorang siswa akan tinggal kelas.
Kedua: jika dia naik kelas, Angie sendiri kurang yakin akan kemampuannya apakah dia akan masuk ke jurusan IPA. Seperti yang telah kutulis di blog beberapa minggu lalu, Angie ingin masuk jurusan IPA karena dia ingin melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Psikologi setelah lulus SMA nanti. Dan syarat utama untuk melanjutkan ke Fakultas Psikologi seorang calon mahasiswa harus lulus dari jurusan IPA.
Aku sendiri tentu tidak nervous, tidur tetap nyenyak, makan pun tetap terasa enak. LOL.
Namun semalam tatkala Angie bilang, “Ma ... Angie deg-degan nih besok terima raport. Angie sudah mimpi beberapa kali Angie tinggal kelas.” Aku jadi begitu kasihan melihatnya. Aku ingin ikut merasakan keresahan yang telah melandanya sejak usai Ujian Blog Akhir Semester beberapa minggu lalu. Namun toh aku tetap saja tidak merasa resah dan gelisah. J
Pagi tadi aku masih sempat kabur ke Paradise Club untuk berfitness sejenak, kurang lebih satu jam. Setelah itu aku baru mempersiapkan diri berangkat ke sekolah Angie. Angie sendiri masih molor tatkala aku pulang dari PC. (memang jagoan molor kok dia. LOL.)
Aku sampai di kelas Angie, X-9 yang terletak di lantai dua gedung sayap kanan dari gedung utama SMA N 3 kurang lebih pukul 09.10. Sudah ada lebih dari 20 orang tua murid yang duduk di dalam ruangan. Setelah basa-basi sejenak dari Guru Wali Kelas, mulailah satu per satu orang tua murid menghadap untuk menerima raport.
Aku yang merasa tidak datang paling awal, meskipun duduk di kursi paling depan, aku tidak serta merta langsung ikutan berebut untuk menghadap untuk segera menerima raport. Sekitar pukul 09.40 ada miscall di hape. Waktu kulihat, ternyata Angie. Oh well, mungkin dia sudah semakin nervous. Saat itu ternyata aku ikutan nervous. Apalagi dua orang yang duduk di belakangku saling berbisik, “Kok jadi ikut merasa tegang yah? Padahal anakku masuk jurusan apa aja ga masalah bagiku. Mengapa juga harus memaksakan diri masuk IPA kalau si anak tidak mampu?”
Berdasarkan perasaanku yang ikut tegang, aku jadi mulai ambil ancang-ancang untuk ikut segera berebut maju ke depan. LOL.
Tak lama kemudian, aku mendapatkan kesempatan itu.
Setelah berbasa-basi sejenak, Guru Wali Kelas menyerahkan raport Angie, aku menjabat tangannya, dan segera keluar ruangan.
Mengetahui bahwa Angie sudah begitu ingin tahu hasil belajarnya selama satu semester ini, aku langsung sms ke dia.
“You got what you wanted honey, PROMOTED TO THE ELEVENTH GRADE è IPA!!!
Congrat! Luv you.”
PT56 10.55 220607

Tuesday, June 05, 2007

Angie and PopCorn

Beberapa hari yang lalu Angie komplain padaku, “Gara-gara Mama nih! Angie jadi suka ngecengin brondong kan?”
“Loh, apa-apaan nih?” tanyaku, ga ngerti.
“Tuh, mas Imoet yang kakak kelas pun ternyata hari ini baru berulang tahun yang ke 16. Berarti dia lebih muda dua bulan dibanding Angie!”
“Oh well, so what gitu loh Sayang kalo naksir cowo yang ternyata lebih muda?” komentarku.
“Malu lah Ma. Masak setiap kali Angie naksir cowo, selalu cowonya lebih muda dibanding Angie?” komplainnya lagi.
“Weleh, kan ga yang ada ngelarang lagi? Emang ada peraturan cewe harus naksir cowo yang lebih tuaan?” protesku.
“Emang ga ada sih. Tapi, Angie kan pengennya naksir cowo yang lebih tuaan?” jawabnya manja.
“Lah, salah sendiri napa pakai peraturan seperti itu pada diri sendiri?”
“Ini pasti gara-gara Mama dulu waktu SMP naksir adik kelas. Sekarang menurun ke Angie kan? Naksir cowo yang lebih muda? Padahal mas Imoet itu kan kakak kelas? Kok ya tetep aja Angie terperangkap dalam masalah naksir cowo yang lebih muda. Ga jadi pantes kuberi nick MAS IMOET dong orang dia lebih muda dua bulan?”
“Lho kok Mama jadi scapegoat sih? Itu kan bukan penyakit keturunan? And about his nick, oh well honey, you can change it now. Not MAS IMOET anymore, but DIK IMOET.” Godaku. Hahahaha ...
“Enak aja, emangnya Angie udah tua banget apa, manggil dia DIK?” komplain Angie.
“Loh kata Angie dia ga pantes dipanggil MAS karena ternyata dia lebih muda, gimana sih?” tanyaku, tetap dengan nada menggodanya.
Dan Angie cuma bisa merengut. Hahahaha ...
####
Entah berasal dari mana, tapi akhir-akhir ini ada satu kata gaul yang sering dipakai orang-orang untuk menyebut laki-laki yang berhubungan dengan perempuan yang lebih tua: BRONDONG. Apa hubungan laki-laki yang lebih muda ini dengan brondong alias pop corn? Karena sama-sama renyah? Wakakakaka ...
Dan Angie pun ikut-ikutan menggunakan istilah tersebut. Entah kecewa atau entah kenapa tatkala mengetahui bahwa cowo kakak kelas gebetannya ternyata lebih muda, Angie sempat woro-woro ke beberapa teman dekatnya. Dan komentar mereka nyaris sama, “Kamu tuh Nggie, seleramu memang brondong-brondong gitu deh.”
Wakakakakaka ...
“Padahal Angie tuh ya udah bela-belain naksir kakak kelas. Eh, tetap aja dia lebih muda dibanding Angie,” komplain Angie kepadaku.
Huehehehehe ...
####
Dalam mendidik Angie, aku selalu berusaha untuk melepaskan dirinya dari kotak-kotak bahwa dalam suatu hubungan sang laki-laki harus LEBIH dibanding si perempuan, misal: lebih tua, lebih tinggi baik fisik maupun pendidikannya, lebih kaya, dll. Aku berharap agar Angie tumbuh bebas lepas, tanpa terbelenggu nilai-nilai yang sering tidak masuk akal dan tidak memiliki esensi. Aku juga berharap dengan cara berpikir yang demikian akan membuat Angie tidak ikut terlibat gosip menggosip yang tidak sehat. (Aku ingat tatkala seorang rekan kerja, perempuan, menikah dengan laki-laki yang secara fisik lebih pendek dari dia, maupun rekan kerja, juga perempuan, menikah dengan laki-laki yang jauh lebih muda, banyak orang-orang yang berbisik-bisik di belakangku di pesta pernikahan mereka, mengatai tidak pantas, dll. Sucking people!!!)
Namun toh Angie tetap saja gusar tatkala dia merasa ‘berbeda’ dengan teman-temannya yang lain.
Aku sempat pernah me’ngompori’nya untuk ‘menembak’ cowo terlebih dahulu. LOL. Sebelum melakukannya, dia bertanya dulu kepadaku, “Mama, is it okay for a girl to express her feeling to a boy first? And not on the way around?”
“Why not, honey? Girls have right to do it too of course. Just express yourself openly. I encouraged her.
“But kalo ternyata dia menolak, tengsin berat dong Ma?”
“Yah, itu resiko dong Sayang. Apa dikira Angie tuh cowo-cowo ga tengsin kalo ‘tembakan’nya ditolak cewe yang dia taksir?”
“Tapi kan kalo cowo ditolak cewe itu udah lazim Ma? Masak mereka tengsin juga?” tanya Angie ga percaya.
“Semua orang merasakan hal yang sama dong menurut Mama,” jawabku.
“Tapi cowo kan bermuka lebih tebal dibanding cewe Ma,” protes Angie.
“Ah ya belum tentu dong Sayang!” jawabku lagi.
And in fact, Angie really did that. LOL. Aku sendiri ga yakin apakah akan mampu melakukannya. Hahahahaha ... Rasanya ga bakal mampu menahan malu berat seandainya ditolak. Wakakakakaka ... Good for Angie because it worked well on her. LOL.
Aku yang selalu merasa menjadi salah satu korban kultur patriarki ini menginginkan kultur yang jauh lebih ramah terhadap perempuan untuk Angie. Namun toh Angie tetap saja terkungkung dengan konsensus-konsensus yang entah kapan mulai diberlakukan. As her beloved Mom, tentu saja aku tidak akan berhenti untuk berusaha menghadirkan dunia yang lebih nyaman buatnya, untuk menerima keperempuanannya dengan terbuka, dan tetap merasa equal dengan laki-laki, tanpa perlu merasa terbatasi hal-hal yang tidak masuk akal. Well, at least tidak masuk akal buatku, sang Feminis. 
PC 07.35 050607

Angie's Dream




Angie is having her promotion test for about a week, June 5-June 13, 2007. That’s why she asked me to take her to go online on Sunday, to have fun for a while before she has to focus her attention to her test. Unfortunately, the cyber café we regularly visit was close. We had to go to another café. Well, there was another one not really far from the first café, but I could not stand with the smoke because there was only one area: smoking section.
After waiting for about 10 minutes coz when we arrived all computers were booked, Angie got one computer. Intentionally I didn’t book one for myself because I could not stand inside. While waiting for Angie, I was sitting on an ugly bench in the narrow terrace of the café, scribbling on the cutie, to continue my article: the review of CURSE OF THE GOLDEN FLOWER. However, I could not really concentrate on my writing. There were four reasons: firstly, there were two boys sitting next to me, who now and again secretly took a look at the monitor of the cutie, curious what I was scribbling (or amazed to see the cute notebook, as cute as the owner? Wakakakaka … ); secondly, the sound of the vehicles passing by in the street in front of the café easily distracted my attention; thirdly, the battery in the cutie was not full so I was worried if out of the blue the cutie was off automatically. (galak poll dia tuh!!! Segalak yang menghadiahkannya kepadaku. Wakakakaka …) and lastly, the complete data was in the desktop, at home.
After scribbling for some time, and I realized I couldn’t really concentrate on it, I used the rest of the battery in the cutie to scribble in the diary. I had one book inside my cute backpack, but I was not in a good mood to read, with some people chatting around me and the loud horn of vehicles passing by. Therefore, eventually I decided to enter the café, breathed the air with smoke inside, and sat next to Angie. I didn’t mean to be fussy to find out what she was doing. She is supposed to know that I never forbid her to do anything she wants to do as long as she is responsible with it, and she knows that I will always be by her side, to support her, and be there when she needs me.
In fact, Angie was busy opening her friendster profile, reading some comments she got, leaving some comments on her friends’ profiles, while at the same time she was looking for some cute pictures of SHREK 3, and watching the video of A WALK TO REMEMBER at www.youtobe.com (FYI, some days ago I borrowed the VCD, but due to the damage in the second CD, we could not watch the complete scenes.)
In her friendster profile, Angie wrote in the “shout out”, to wish her luck to be promoted to the second (or eleventh) grade, and get accepted at IPA major. She also left similar comments in her friends’ profiles.
Well, it reminded me of Angie’s telling me about her dream some time ago. She dreamt of being accepted at BAHASA (Language) major. When she told me that dream, I didn’t comment anything. To me, whatever major she will take later is up to her choice and ability. Well, some months ago when she asked my suggestion what major to take, I reminded her of her want—to continue her study in Psychology Department. It means that she had to take IPA major because most universities oblige candidate students to graduate from IPA major to major in Psychology. I myself majored in BAHASA when I was at senior high school because I already set my heart on continuing my study at English Department.
Inside my heart I wanted Angie to major in IPA, but I didn’t want to force her. It would be very unwise of me. And I couldn’t read what Angie was feeling or thinking when she told me about her dream: she wanted to ask me to let her major in BAHASA, or she told me about her worry.
And when I was sitting next to her, accompanying her going online, and finding out her typing that ‘shout out’ and comments at her friendster profile, I could draw a conclusion: she was worried if her dream came true—to get accepted at BAHASA. She has set her heart on majoring in IPA, no matter what her reason is: whether to be able to continue to Psychology Department, or any other thing. She must know her responsibility: to prepare herself as best as she can to do the promotion test.
I remember my dream—also Angie’s dream—a year ago. I wanted Angie to follow my path: after studying at the same junior high school as me—SMP N 1 Semarang, I wanted her to continue her study at the same senior high school—SMA N 3 Semarang. I was not really sure because Angie suffered from typhus when doing her examination. It means she couldn’t prepare herself maximally. Besides, she was just a mediocre student, not among the brightest ones due to her laziness. Her IQ which is 122 is not really bad, is it? And in fact, OUR DREAM CAME TRUE. Angie is studying at SMA N 3 Semarang now.
My next dream is Angie continues her study at Gadjahmada University two years again. At the moment, this dream seems somewhat just a dream because I am not really sure if I can support her study there financially. But of course I still have a big hope for this. I remember seven years ago, I visited my ex workmate who was studying at GMU with Angie. When this workmate took me to Gedung Lengkung, the Head Office of Graduate Program, I talked to Angie, “I have been dreaming to come here as a student.” But I was not sure to be able to do that due to the financial constraint. And in fact, two years later, in 2002, I did come to Gedung Lengkung to be one of the Graduate students there.
Sometimes, miracles do come to us, don’t they? To me, my Abang’s arrival in my life is also one example of miracle.
I do hope that Angie will get what she wants. Amen.
PT56 23.00 040607