Thursday, February 22, 2007

Saat menjelang rapat

Ketika aku parkir sepeda motor di bawah satu pohon rindang di depan SMA N 3 untuk menghadiri rapat, datanglah seorang laki-laki yang kemudian memarkir motornya di sampingku. Dia tersenyum dan menyapaku. Berhubung telingaku sedang khusuk mendengarkan lagu dari MP, aku tidak mendengarnya. LOL. Yang kulihat hanyalah mulut orang tersebut seperti sedang berkata sesuatu, dan matanya tersenyum kepadaku. (Bisa bayangin kan, sorot mata yang tersenyum? Bisa bedain dengan sorot mata yang tajam menusuk menuduh kita melakukan suatu kesalahan, misalnya?)
Untunglah aku langsung sadar bahwa orang tersebut berbicara padaku sehingga aku lepaskan earphone dari telinga, dan bertanya kepadanya, “Kados pundi Pak?”
(I speak very little Kromo Inggil, if you care to know. LOL.)
“Mbak mau menghadiri rapat?”
“Oh, iya. Bapak juga kan?” aku berikan senyum manis kepadanya sekaligus untuk memberikan kesan bahwa aku minta maaf padanya karena tidak mendengar sapaannya sebelumnya. LOL.
“Iya.”
“Anaknya kelas berapa Pak?” tanyaku berbasa basi.
“Kelas X-11.”
“Oh, anak saya kelas X-9.”
Aku tahu setelah saling berbasa basi menyapa kita bisa berjalan bersama menuju ke tempat rapat diselenggarakan. Namun berhubung aku ini tipe orang yang mengidap penyakit asocial yang parah, aku langsung ngacir, setelah berpamitan,
“Monggo Pak?”
Dia menjawab, “Monggo...”
Namun, ternyata dia tidak memahami bahasa tubuhku yang sebenarnya ingin memberitahunya bahwa aku ingin sendiri. Aku berjalan dengan langkah yang tidak panjang karena kakiku pun tidak panjang. LOL. Otomatis, laki-laki itu dengan mudah mensejajarkan diri dengan langkahku, dan bukannya mengambil arah yang berbeda dariku. Aku langsung berpikir, “Gimana cara beramah tamah lagi dengannya? Apa yang harus kukatakan?”
Akhirnya kutemukan satu pertanyaan yang sangat basi itu. “Anak Bapak lulusan SMP mana?”
Ternyata anaknya dulu satu sekolah dengan Angie, SMP N 1, namun berasal dari kelas yang berbeda. Angie di kelas 3D sedangkan anaknya di kelas 3A.
Out of the blue, si Bapak itu berkata, “Istri saya ga mau saya minta untuk menghadiri rapat-rapat seperti ini. Terpaksa saya datang sendiri.”
“Oh ...” jawabku pendek. (menurut cara berkomunikasi yang baik yang pernah kubaca, jawaban pendek seperti “oohh....” “hmmm...” “iya ....” tanpa mengatakan apa-apa lagi setelah itu termasuk cara killing conversation yang sukses. LOL. )
Betapa aku ini orang yang tidak ramah. 
Namun, dalam pikiranku aku langsung berpikir, mengapa orang ini berbicara seperti itu? Untuk urusan anak kan ga perlu ada garis pembatas ini urusan sang ibu maupun sang ayah? Kalau memang sang ibu sibuk bekerja di kantor, dan sang ayah yang punya waktu luang, mengapa tidak?
Kebetulan saja aku ini single parent, yang tidak bekerja 8-4 di belakang meja dengan melototin monitor komputer ataupun dengan balpoint di tangan kanan dan telepon di tangan kiri menerima keluhan dari klien, misalnya.. So, it is not a big deal bagiku untuk selalu menghadiri acara rapat seperti ini di sekolah anakku.
Well, hanya sekedar catatan kecil waktu aku menghadiri rapat di sekolah anakku.
PT56 13. 40 220207

SMA N 3 Semarang

Rabu 21 Februari 2007, aku menghadiri rapat orang tua siswa dengan sekolah di sekolah Angie, SMA N 3 Semarang. FYI, mulai tahun ajaran 2006/2007, SMA N 3 Semarang mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Jawa Tengah untuk menjalankan program SNBI (Sekolah Nasional Berstandar Internasional). Kepercayaan ini tentu saja tidak datang tiba-tiba, namun didasarkan atas prestasi SMA N 3 Semarang selama ini yang selalu menjadi sekolah unggulan, yang mencetak bibit-bibit unggul. Salah satu alumni SMA N 3 Semarang yang sangat dibanggakan adalah Sri Mulyani, salah satu dari sedikit menteri perempuan yang sampai saat ini dimiliki oleh Indonesia.
Darimanakah bibit-bibit unggul tersebut berasal? Tentu saja berasal dari calon-calon siswa yang setiap tahun berduyun-duyun datang mendaftar. Dari hasil test maupun saringan hasil NEM tertinggi, SMA N 3 mendapatkan calon bibit unggul tersebut. Siswa-siswa yang bersekolah di SMA N 3 Semarang tidak melulu hanya dari mereka yang berdomisili di Semarang, namun juga berasal dari kota-kota sekitar, misal Purwodadi, Demak, dan Ambarawa, dan beberapa kota lain. Tentu mereka yang diterima di SMA N 3 adalah siswa-siswa yang memang dari sononya memiliki kualitas bagus, namun di kota asal mereka tidak mendapatkan sekolah yang mereka (atau orang tua mereka) pikir cukup berkualitas, sehingga mereka pun hijrah ke Semarang dan melanjutkan sekolah ke SMA N 3.
Cara penyaringan siswa begini memberikan dampak kecemburuan sosial atas sekolah-sekolah lain yang terletak di segala penjuru kota Semarang. Siswa-siswa berkualitas yang berdomisili dekat dengan sekolah-sekolah tersebut tidak melirik sekalipun untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang (sayangnya) memiliki kualitas pas-pasan. Mereka berbondong-bondong belajar di SMA N 3, meskipun lokasi rumah dengan sekolah lumayan jauh.
Inilah sebabnya pada penerimaan siswa baru sekolah negeri tahun ajaran 2006/2007 diberlakukan sistem rayonisasi, sehingga siswa-siswa hanya bisa melanjutkan ke sekolah-sekolah yang letaknya satu rayon dengan tempat tinggal mereka. Seandainya mereka ingin menyeberang rayon, mereka harus memiliki NEM yang tinggi. Prosentase penerimaan siswa dalam dan luar rayon adalah 60%:40%. Sekolah-sekolah harus memprioritaskan calon-calon siswa yang berdomisili di dalam rayon, hingga mencapai 60% dari keseluruhan jumlah calon siswa yang akan diterima, baru menerima calon-calon siswa yang berdomisili di luar rayon.
Namun, ternyata sistem rayonisasi seperti ini berdampak buruk bagi SMA N 3 meskipun menguntungkan bagi sekolah-sekolah negeri yang lain, karena akhirnya mereka mendapatkan calon-calon bibit unggul yang kebetulan tidak dapat diterima di sekolah-sekolah favorit, salah satunya SMA N 3. Untuk memenuhi prosentase 60% tersebut, SMA N 3 terpaksa menerima calon-calon siswa yang memiliki NEM rendah. (Catatan: SMA N 3 terletak di satu lokasi dimana memang jarang ada tempat tinggal, kebanyakan adalah bangunan kantor, maupun pusat-pusat keramaian lain. Dengan pemekaran kota Semarang, tentu saja lebih banyak tempat tinggal yang terletak di pinggiran kota.)
Hal ini membuat pihak sekolah keberatan karena dengan input yang kurang bagus, mereka harus menerapkan sistem SNBI. Untuk memenuhi sistem SNBI, selain SMA N 3 harus menyediakan sarana dan prasarana yang memadai (misal: ruang kelas harus ber-AC, setiap kelas dilengkapi dengan komputer dan LCD yang terhubung ke internet, plus kenyamanan-kenyamanan lain yang mungkin setara dengan sekolah di luar negeri), kurikulum pilihan, ada beberapa pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Inggris, yang berarti harus menyiapkan human resources yang memadai.
Setiap kali aku menghadiri rapat orang tua siswa-sekolah, kepala sekolah tidak pernah bosan-bosannya mengeluhkan masalah ini  input yang kurang memadai, namun harus mengikuti sistem SNBI.
Rapat hari Rabu kemarin membahas tentang persiapan penjurusan setelah naik ke kelas 2. Jika dalam waktu beberapa tahun terakhir ini SMA N 3 tidak membuka jurusan Bahasa, tahun ini SMA N 3 membuka jurusan yang sudah lama dianaktirikan ini, dengan alasan mengingat input yang sangat bervariasi. Sekolah tidak lagi bisa memaksakan siswa untuk hanya masuk ke dua jurusan IPA dan IPS. Rapat dimaksudkan untuk memberitahukan kepada orang tua siswa untuk mempersiapkan anak-anaknya sebaik mungkin, sembari mengingat minat, bakat, dan kemampuan masing-masing. Mengapa? Karena sering terjadi seorang anak memilih jurusan yang dianggap bergengsi—IPA—bukan karena minat dan bakat si siswa, namun karena gengsi orang tua. Dengan mengingatkan bahwa input tahun ini tidak atau kurang bagus dibanding tahun-tahun lalu, pihak sekolah ingin bahwa para orang tua juga memaklumi hal ini. tidak lah serita merta seorang anak yang biasa-biasa saja kemampuannya tiba-tiba menjadi luar biasa setelah bersekolah di SMA N 3.
Sementara itu, berdasarkan hasil rapot semester I, memang terlihat dengan jelas gap nilai yang didapatkan oleh siswa-siswa yang NEM nya cukup tinggi (SMA N 3 menggunakan tolok ukur yang mereka pakai pada penerimaan siswa baru tahun ajaran 2005/2006 yakni minimal NEM 26) dengan mereka yang NEM nya di bawah itu.
Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh SMA N 3 selama semester 1 kemarin untuk meningkatkan prestasi akademik siswa adalah dengan memberlakukan matrikulasi mata-mata pelajaran tertentu yang dirasa kurang dikuasai oleh siswa. Matrikulasi dilakukan pada jam ke-0 alias pukul 06.45-07.00. Selain itu juga dengan mengadakan her alias mengulang tes seandainya nilai tes yang didapatkan se belumnya berada di bawah standar kelulusan yakni nilai 75.
Semester 2 ini baru berjalan selama satu bulan. Akankah pemberian matrikulasi (atau pelajaran tambahan) dan pemberlakuan her akan meningkatkan prestasi akademik para siswa yang tatkala masuk SMA N 3 memiliki NEM yang pas-pasan? Pihak sekolah memberitahukan bahwa seorang siswa akan tinggal kelas jika dia mendapatkan nilai kurang dari 75 untuk lebih dari 3 mata pelajaran.
PT56 23.55 210207

Saturday, February 10, 2007

SMA N 3 Semarang



Seberapa beratkah menjadi murid SMA 3 Semarang, terutama mulai angkatan Angie yang dibebani dengan mutu SNBI?
Jadi ingat ketika aku masih duduk di bangku SMA 3 lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Kalau ada guru praktek—mahasiswa IKIP—aku dan teman-teman suka ngeliat guru-guru praktek yang grogi menghadapi siswa-siswa SMA 3 yang terkenal (biasanya) lebih cerdas dibanding sekolah-sekolah lain. LOL. Sering mereka berkeringat dingin ketika berada di depan kelas. Khawatir siswanya lebih cerdas dibanding mereka sendiri. LOL. (NOTE  jaman itu, ada juga stereotyping: mahasiswa UNDIP lebih cerdas dibanding mahasiswa IKIP, yang notabene guru-guru praktek itu kurang cerdas. Oh well, bagaimana mereka akan mencerdaskan generasi mendatang kalau mereka sendiri tidak (atau kurang) cerdas?
Sekarang aku berprofesi sebagai guru. Apakah aku grogi tatkala menghadapi siswa-siswa cerdas? Khawatir keliatan gobloknya? Hahahahaha ... Ternyata enggak tuh? I even love smart students more than those who are less smart. Gampang banget to explain about something. Ga perlu pakai acara ngotot kalau sedang menjelaskan. LOL. So, sekarang kupikir, betapa enaknya guru-guru SMA 3 Semarang itu yang menghadapi (kebanyakan) siswa-siswa yang cerdas. They don’t need to work hard, do they?
Talking about facing smart students, jadi ingat omongan Abang, “How if your student outsmarts you?” ketika aku memujinya sebagai, “My smart student” terutama kalau kuajak adu reading between the lines. See? Dia juga a snob kan? Hahahaha ... kata Phillip, teman blogku dari Inggris, “an intellectual snob.” LOL.
Oh well, Angie dan teman-temannya yang keberatan dengan tugas ini itu dengan standar nilai 75 itu. Guru-gurunya (mungkin) yang tidak keberatan atau kesulitan ketika explaining things before the class. Or do they?
PT56 23.15 050207

Angie and her school



“Hah, memang berat menjadi murid SMA 3 Semarang,” komplain Angie sekitar satu setengah jam yang lalu tatkala dia sedang berkutat dengan peer-peernya yang bejibun. Aku hanya tersenyum mendengarnya, sembari tetap menyuapinya makan malam. (Bayangkan: aku menyuapinya makan malam sementara dia sibuk mengerjakan peer dan kadang-kadang bersms ria dengan teman-temannya untuk bertanya ini itu. Do you think I spoil her? Yah, anak cuma satu, siapa lagi yang akan ku-spoil?)
Ketika Angie lulus SMP bulan Juni 2006, aku sendiri memang memiliki keinginan kuat agar Angie sekolah di sekolah negeri terfavorit di Semarang ini dengan alasan romantisme—dulu aku pun sekolah di situ. Namun, mengetahui bahwa SMA N 3 Semarang terpilih sebagai pilot project SNBI (Sekolah Nasional Berstandar Internasional) di Semarang, aku agak ragu apakah Angie mau ‘bekerja keras’ untuk menjadi siswa di situ. Kenyataan bahwa her dream boy masuk ke sekolah itu, mempermudah keinginanku menjadi kenyataan. LOL.
Hasil rapor semester I kemarin menurutku tidak begitu mengecewakan—kecuali bahwa nilai Bahasa Inggrisnya cuma 80. Aku tidak pernah mendapatkan nilai di bawah 90 untuk Bahasa Inggris ketika aku duduk di bangku SMP dan SMA. Hasil jerih payahku sendiri. Lah Angie? She has me—her mother, an English teacher—sebagai tempat dia bertanya ini itu. Tiga mata pelajaran yang nilainya masih di bawah 75—sebagai standar kelulusan—adalah Matematika, Kimia, dan Ekonomi. Meskipun ketika kuliah S2 kemarin aku begitu mengejar nilai A, bagiku sebenarnya tidak begitu penting berapa nilai yang Angie dapatkan di rapornya, yang penting adalah dia harus paham betul materinya. Buat apa nilai bagus tapi dia cuma hafalan belaka?
Beberapa hari yang lalu, dia komplain omongan guru Matematikanya, “Bagi mereka yang nilai Math di rapornya di bawah 75, dan di rapor semester dua nanti juga sama, tidak ada perkembangan, jangan berharap mimpi masuk jurusan IPA.” Kata guru itu.
Aku berkomentar, “Kalau Angie beneran mau kuliah di jurusan Psikologi nanti, Angie harus masuk jurusan IPA.”
Angie diam saja mendengarnya.
Well, aku bukan tipe orang tua yang merasa perlu menyuruhnya—atau memaksanya—untuk belajar, atau yang setiap beberapa menit sekali atau beberapa jam sekali mengingatkannya, “Sudah belajar belum? Sudah bikin pe-er belum? Dll...” Aku anggap Angie sudah cukup dewasa untuk menentukan kapan dia belajar, kapan bikin pe-er, kapan baca novel teenlit kesukaanya, kapan nonton teve, dll. Aku akan mengatakan sesuatu yang penting TEPAT PADA WAKTUNYA. Yah, misalnya waktu mengingatkannya harus belajar Math lebih giat lagi kalau dia memang benar-benar pengen kuliah di jurusan Psikologi yang berarti dia harus masuk jurusan IPA.
Hah, aku sendiri sebenarnya sebel juga dengan dikotomi ini—IPA/IPS/Bahasa. Apalagi banyak di masyarakat anggapan bahwa jurusan IPA milik anak-anak yang pintar, dan jurusan IPS/Bahasa milik anak-anak yang kurang pintar. Padahal ini kan semata urusan interest masing-masing individu?
Any idea why a student must major IPA to continue to Psychology faculty?
Oh well, memang Angie harus selalu bekerja keras. Dan kupikir aku telah memberinya contoh yang lumayan bagus. Aku selalu membaca buku—yang tidak hanya novel, namun kebanyakan buku yang kubaca adalah buku scientific—padahal aku bukan mahasiswa lagi.
PT56 23.00 050207

Monday, February 05, 2007

Raising Angie


“Pada waktu Angie berusia berapakah kamu merasakan paling sulit membesarkannya?”
Ini adalah satu pertanyaan seorang rekan kerja kepadaku hari Sabtu siang tatkala aku sedang mengerjakan monthly report di ruang guru.
Dan aku sedikit bengong mendengarnya karena teman satu ini tahu betul betapa dekat hubunganku dengan Angie—dan kamu tahu, dia memberi nama anaknya Anggun, dan memberinya nickname Angie, sama persis dengan nickname my Lovely Star, yang ternyata pernah dikomplain oleh Angie anak semata wayangku itu. LOL. Satu alasan jelas, dia tidak mau diduakan. “Emang ga ada nickname lain apa kok pilih nick itu? Itu kan milik Angie?” komplainnya padaku. LOL. Aku jawab, “Well, honey, to me it shows that that workmate of mine adores you.” Huehehehehe ... dan Angie pun ternyata tetap saja bersungut-sungut. Lebih lanjut aku bilang, “She wants her daughter as sweet and nice as you, don’t you realize that?” Angie hanya menatapku dengan sorot mata heran. Oh goodness, she doesn’t realize that she is very sweet and nice? And of course it is because HER MOTHER—ME IN THIS CASE LOL—IS ALSO VERY SWEET AND NICE? Hahahaha ...
Mbak Icha Koraag—seorang teman milis—menjulukiku “Si Nana yang nafasnya selalu penuh cinta”. Kan? Karena aku membesarkan Angie dengan penuh cinta—meskipun bukan berarti aku tidak pernah memarahinya, dengan catatan kalau aku marah aku tidak pernah berteriak-teriak ataupun mengomelinya, kayak kelebihan energi aja LOL—tentu Angie pun tumbuh menjadi anak yang penuh cinta kepadaku.
“Well, you know, my communication with Angie is very ok and I think that’s the basic way to have a good relationship. Therefore, I don’t think I have undergone difficulty to raise Angie,” ini jawabanku kepada rekan kerjaku itu.
Belajar dari pengalamanku sebagai anak juga merupakan salah satu kunci aku memiliki hubungan mulus dengan Angie. Aku tidak pernah ngejudge dia buruk hanya karena dia suka lingering at school setelah pulang sekolah, ataupun main ke rumah Nana—sobatnya yang punya nick sama persis denganku, betapa orang di dunia ini memang kurang kreatif yah? LOL. Sewaktu duduk di bangku SMP dan SMA aku dulu juga suka melakukannya—lingering dengan teman di sekolah, maupun mampir ke rumah teman maksudku—dan aku melihat there is nothing wrong with that. Kalau aku dulu melakukannya, mengapa aku harus mengomeli Angie karena melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan dulu? (Ssssttt ... Angie’s grandma expected me to scold Angie for that yang tentu saja tidak kulakukan.)
Aku tidak pernah memarahi Angie—menggunakan istilah rekan kerjaku itu ‘being judgmental’—karena hal-hal yang dia lakukan yang dulu tidak kulakukan. Misalnya dia bercerita ketika dia tidak menyukai satu pelajaran ataupun gurunya, dia kabur ke kantin sekolah dengan teman-temannya. Daripada aku omelin kemudian dia ga mau lagi bercerita hal-hal “kreatif” seperti itu lagi? Aku akan lose track atas apa aja yang dia lakukan. Satu hal yang pasti, meskipun dia tidak suka gurunya maupun pelajaran tertentu, sebagai siswa SMA N 3, dia dikenai beban untuk lulus satu pelajaran jika mendapatkan nilai 75, di bawah itu, dia akan harus terus menerus mengulang. Mau tidur di kelas kek, mau kabur ke kantin kek, dia tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab ini.
Satu hal lain lagi yang dia lakukan—dan tidak pernah kulakukan ketika aku duduk di bangku SMA—adalah mempersiapkan contekan dengan canggih. Oh well, tentu saja, karena dua puluh tahun yang lalu, aku tidak punya media untuk itu. Barangkali aku akan melakukan hal yang sama jika ada media canggih yang akan membantuku mencontek. Hahahahaha ... Anak-anak sekarang—berdasarkan cerita-cerita siswa-siswaku di tempat kerjaku, juga dari Angie tentu saja—sering menggunakan media sms untuk saling mencontek. Kebetulan Angie memiliki MP yang bisa dipakai untuk menyimpan dan membaca tulisan menggunakan txt extension. Satu malam, aku memergokinya mengetik menggunakan notepad dan bukan MsWord. Aku lihat MP nya menempel di kabel perpanjangan USB yang tentu berarti dia pakai untuk menyimpan ketikan notepad itu di MPnya. Aku tanya, “What are you doing honey?”
“Biasa lah Ma, mempesiapkan contekan,” jawabnya ringan. LOL.
Aku tidak kaget karena aku telah memperkirakan that was what she was doing at that time. Oh well, harus menyalahkan siapa kalau di Indonesia negeri tercinta ini pendidikan masih bertumpu pada hafalan dan bukan pemahaman? Satu hal pasti yang selalu kukemukakan pada Angie, aku ingin dia memahami satu topik permasalahan yang dia jumpai dalam pelajaran di sekolah, dan bukan hanya menghafalkan, dan seminggu kemudian lupa.
Akhir-akhir ini aku memang tidak begitu disibukkan oleh jadual kerjaku yang mebuatku punya waktu untuk menjemput Angie pulang sekolah. Di malam hari masih sempat mendengarkan celotehannya tentang teman-teman sekolahnya, guru-guru yang katanya sering sok tahu masalah remaja—perhatikan CUMA SOK TAHU tanpa benar-benar pernah mau memahami apa yang mereka alami dan rasakan—cowo-cowo yang dia taksir, dll.
Membesarkan anak selalu merupakan satu kegiatan dan tanggung jawab yang sangat asik bagiku. Bagiku cinta bukan hanya untuk diucapkan dan dirasakan, namun juga diungkapkan dengan physical touch—aku selalu suka menciumnya dan memeluknya—memahami dunianya yang tentu sudah berbeda dari duniaku ketika aku masih remaja, berkomunikasi yang baik—saling mendengarkan satu sama lain dan saling percaya.
Memberi mereka kesempatan—dan kepercayaan tentu saja—untuk melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan yang mereka yakin itu baik buat mereka, dan kita cukup memantau dari belakang. Dan lain lain deh.
Klise yak?
Hahahahahaha ...
PT56 07.15 040207