Monday, October 02, 2006

Kenangan Saat Angie ...

Artikel ini terilhami oleh buku Family Secrets—Acts of Memory and Imagination tulisan Annette Kuhn, yang diungkapkan oleh Aquarini dalam artikelnya “Jins, Dangdut, dan Dosen: Fashion sebagai Pernyataan Diri” dalam bukunya Kajian Budaya Feminis.

Dalam bukunya yang merupakan analisis personal atas masa kecilnya, Annette menulis tentang pakaian-pakaian yang dia kenakan dalam pelbagai kontes, pakaian-pakaian hasil karya ibunya, untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam menciptakan berbagai macam kreasi pakaian, dan kemudian “memaksa” sang anak yang masih berusia tujuh tahun sebagai “manekin hidup”. Annette kecil tidak kuasa untuk menolak keinginan sang ibu tentu saja.

Membaca artikel ini mengingatkanku pada masa-masa ketika Angie sedang getol mengikuti kontes modelling, sekitar tahun 1997-1999, kemudian 2001-2002.

Angie “berkenalan” dengan dunia modelling ketika dia mengambil kursus Bahasa Inggris di suatu lembaga yang disebut Semarang 2000 yang pada waktu itu berlokasi di daerah perumahan Semarang Indah, Semarang. Selain kursus Bahasa Inggris, Angie juga mengambil kelas “perkembangan anak” (agar anak menjadi pemberani, mudah bergaul dengan anak-anak lain, leadership, dll), menari, menggambar, dan modelling. Angie yang masih duduk di bangku kelas 1 SD, tentu saja memiliki banyak waktu luang di sore hari, sehingga aku membiarkannya mengikuti kegiatan ini itu asalkan dia sendiri menikmatinya. “Tut Wuri Handayani” kata oran Jawa.

Dari beberapa kegiatan yang dia ikuti, modelling adalah kegiatan yang akhirnya menyita banyak waktu, energi, dan juga uang. LOL. Tentu saja, Angie pernah juga ikut lomba Bahasa Inggris—yang paling memorable adalah ketika dia menjadi juara 1 dalam lomba reading English nursery poem sekotamadya Semarang; menari—pernah menjadi juara 1 sekotamadya Semarang dengan kelompoknya. Namun kegiatannya dalam mengikuti lomba modelling lah yang akan kubahas di sini.

Semua bermula dari keinginan Angie sendiri untuk mengikuti berbagai lomba tersebut. Tiga lomba pertama yang dia ikuti—sekitar bulan Agustus-September 1997—dimana Angie kalah, tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mengikuti lomba. That’s great, isn’t it? Dan ketika pertama kali Angie memenangi suatu lomba modelling, itu membuat Angie tambah bernafsu untuk memperbanyak jumlah piala yang dia miliki. (Anak kecil mana yang tidak menyukai piala?) Dan aku pun ketularan ikut bernafsu.

Lama-lama aku mulai memaksa Angie untuk latihan jalan di rumah—aku sebagai pengawasnya—selain latihan rutin dengan instruktur modellingnya. Melihatku yang bernafsu seperti itu ternyata membuat Angie bosan. (Yah, maklum, anak kecil!) Dan aku mulai menggunakan “I-am-your-mother-so-you-must-obey-me” policy to her. Sometimes it worked, sometimes it didn’t though. LOL. (Goodness, aku mulai membayangkan apa yang akan Angie tulis kelak setelah dewasa nanti atas pengalamannya di waktu kecil, seandainya dia tumbuh menjadi seperti Annette Kuhn, yang “memprotes” ibunya lewat bukunya Family Secrets—Acts of Memory and Imagination? Sebelum aku dikritik oleh Angie, aku melakukan otokritik dulu deh lewat tulisan ini. LOL.)

Berbeda dengan Annette yang tidak menyukai pakaian yang dia kenakan, Angie tidak bermasalah dengan pakaian yang dia kenakan ketika mengikuti lomba-lomba modelling tersebut. Yang dia protes adalah cara kerasku memaksanya untuk latihan jalan sebelum tidur (FYI, aku pulang kerja rata-rata jam 21.00, dan sebelum tidur, aku menyuruh Angie latihan selama kurang lebih 15-20 menit. Untunglah ruang tengah di rumah lumayan luas, lumayan layak untuk tempat latihan. Ups ... jadi ingat beberapa mahasiswaku yang mungkin mengakses blog ini, they will find out bagaimana Ms. Nana bisa tahu bagaimana cara jalan di catwalk, bagaimana berpose, bagaimana melakukan putaran, dll, LOL. Dari hasil pengamatan instruktur modelling Angie mengajari Angie. Untuk mengantisipasi mahasiswa agar tidak datang terlambat ke kelas, aku sering memberikan hukuman untuk menyanyi, membaca puisi, jalan di catwalk, dll, bagi mereka yang datang terlambat ke kelas.)

Angie cukup pede dengan berbagai pilihan busana yang kupilihkan untuk dia kenakan ketika mengikuti lomba modelling, dari mulai busana pesta, casual, pantai, sampai busana muslim. Dan nampaknya dia merasa nyaman-nyaman saja mengenakannya. (Just wait until she grows up, will she complain? LOL.)

Ada satu pasang sepatu yang dia komplain ketika mengenakan, karena ternyata kekecilan waktu dipakai. Sepatu boots warna merah yang dia kenakan dalam lomba “Putra Putri McKids” di McDonald’s Sri Ratu Semarang. Angie sempat ngambek tidak mau memakainya karena tumit dan jari-jari kakinya sakit. Namun karena tidak punya sepatu lain yang cocok untuk pakaian yang dia kenakan, aku paksa dia memakainya. LOL. Sebenarnya ada sepatu lain yang berwarna merah, namun karena modelnya pantofel—tidak funky kalau dipadukan dengan busana casual—Angie tidak memiliki pilihan lain selain sepatu boots merah yang hampir selutut itu. LOL. Untunglah dia menang sebagai juara favorit, sehingga terbayarlah sakit di kakinya. Dan sepatu yang harganya lumayan mahal bagi kocekku ini hanya dipakai sekali untuk mengikuti lomba. LOL.

Kembali ke keegoisanku untuk memaksa Angie latihan jalan sebelum tidur, LOL, lama-lama aku mengalah ketika melihatnya benar-benar bosan. Lomba terakhir yang dia ikuti adalah “King and Queen of Millennium” bulan Juli 1999.

Setelah vakum selama dua tahun, dan kulihat Angie kangen berlenggak-lenggok lagi di catwalk, aku menawarinya untuk come back. Dia mulai ikut lomba lagi dalam “Kontes Teletubbies” bulan Juni 2001 yang diselenggarakan di lantai dasar Citraland Semarang.. Lomba terakhir yang dia ikuti adalah “Busana Nuansa Pink” dengan penyelenggara McDonald’s Java Mall Semarang bulan Februari 2002. Ketika Angie benar-benar siap mental, dan berkeinginan sendiri—tanpa campur tanganku—sehingga dia pun bertanggung jawab atas pilihannya itu, misal mau latihan jalan sendiri tanpa kuminta, tampil maksimal, dan tentu saja hasilnya pun bagus: Angie selalu memenangi setiap lomba yang dia ikuti dalam rentang waktu Juni 2001—Februari 2002.

Setelah itu nyokapnya sibuk sendiri dengan studinya di Yogya. LOL.

PT56 22.57 300906